Ada satu gagasan yang hidup di tengah-tengah mereka yang kehilangan.
“The Last Meeting.”
Katanya, kalau kamu dan seseorang yang pernah kamu sayang sudah selesai dengan perjalanan kalian, semesta akan memastikan kalian nggak akan ketemu lagi di kebetulan manapun. Nggak peduli seberapa dekat kalian di dunia, punya teman yang sama, atau sering ada di tempat yang sama, takdir akan menjauhkan kalian secara halus seperti seolah menutup pintu tanpa suara supaya kamu nggak tergoda buat menoleh ke belakang.
Ibaratnya, kamu dan dia ada di satu kota yang sama. Kota itu sempit, tapi kalian nggak pernah ketemu lagi. Padahal banyak banget kesempatan buat ketemu, tapi anehnya selalu nggak kejadian. Kamu baru datang pas dia baru pulang beberapa menit yang lalu. Sebaliknya, kamu baru pulang ketika dia baru datang.
Dalam psikologi hubungan, ada konsep tentang closure, tentang proses melepaskan. Ketika seseorang sudah benar-benar selesai secara batin, dia nggak lagi mencari, nggak lagi “mengatur” kemungkinan buat ketemu, dan tanpa sadar menghindari hal-hal yang bisa memicu kenangan lama. Kadang itu yang bikin dua orang memang nggak ketemu lagi. Seakan semesta nggak merestui untuk bertemu lagi.
Segala sesuatu yang ada didunia itu nggak kekal. Pertemuan dan perpisahan terjadi karena sebab–akibat, bukan karena kesengajaan. Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya.
Jadi, selama kamu masih punya waktu sama orang yang kamu sayang, entah itu keluarga, teman, atau pasangan, nikmatin aja. Karena kita nggak pernah tahu kapan masa itu selesai.
Komentar
Posting Komentar