Arus Mudik dan Balik Padati Feri Saka Mangkahai

Deretan sepeda motor tampak memanjang memenuhi jalan sempit di Saka Mangkahai. Mesin-mesin kendaraan menyala pelan, sesekali terdengar klakson pendek yang memecah suasana. Di bawah langit yang mendung, para pengendara hanya bisa menunggu perlahan, bergeser maju mengikuti antrian yang nyaris tak bergerak.

Antrian itu bahkan bisa mencapai 500 meter hingga 1 kilometer dari lokasi feri.
Momen mudik dan arus balik Lebaran tahun ini kembali menjadikan feri penyeberangan Saka Mangkahai sebagai titik padat lalu lintas. Sejak 16 Maret hingga 29 Maret 2026, jalur ini dipadati oleh pemudik yang ingin menuju berbagai daerah seperti Kuala Kapuas, Banjarmasin, Barimba, hingga Tamiang.

Bagi masyarakat sekitar, feri ini bukan sekadar alat penyeberangan. Ia adalah akses tercepat menuju wilayah Kapuas dan sekitarnya, selain jalur darat Basarang. Dengan kapasitas yang mampu mengangkut sepeda motor dan mobil dalam jumlah cukup banyak, feri ini menjadi pilihan utama, terutama saat arus mudik meningkat.

Feri tersebut juga merupakan milik warga setempat, yang telah lama menggantungkan penghasilan dari aktivitas penyeberangan ini. Meski tidak memiliki catatan pasti kapan pertama kali beroperasi, keberadaannya sudah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Mandomai selama puluhan tahun, terutama sejak wilayah itu berkembang sebagai pusat aktivitas dan pendidikan.
Namun, meningkatnya jumlah pemudik tidak selalu berjalan mulus. Lonjakan kendaraan membuat waktu tunggu semakin lama. Tak jarang, para pengendara harus menghabiskan waktu hingga 30 menit atau lebih hanya untuk menunggu giliran menyeberang.

Di sepanjang antrian, terlihat berbagai potret kecil perjalanan. Seorang ibu duduk di atas sepeda motor sambil menggendong anaknya yang mulai gelisah. Di sisi lain, beberapa pengendara memilih turun dari kendaraan, berjalan kaki sejenak untuk mengurangi lelah. Ada pula yang sibuk memainkan ponsel, sekadar mengusir bosan.

Kenaikan tarif juga menjadi bagian dari perubahan yang dirasakan. Jika sebelumnya biaya penyeberangan hanya sekitar Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil, kini tarif meningkat menjadi Rp5.000 untuk motor dan Rp10.000 untuk mobil, seiring dengan naiknya harga bahan bakar minyak.

Meski harus menghadapi antrian panjang dan waktu tunggu yang tidak sebentar, para pemudik tetap memilih jalur ini. Bagi mereka, feri Saka Mangkahai tetap menjadi jalur penting yang menghubungkan perjalanan pulang dan kembali.

Di tengah padatnya arus mudik dan balik Lebaran, feri ini seakan menjadi saksi bisu mengantar rindu menuju kampung halaman, lalu mengembalikannya lagi ke perantauan.

Komentar