Asmara Ribet, Asmara Gen Z

Menonton sinetron yang alurnya maju mundur itu sebenarnya bukan hal baru. Tetapi tidak semua bisa membuatnya terasa mudah dipahami. Asmara Gen Z jadi salah satu yang masih ramai dibicarakan sampai sekarang, meskipun arah ceritanya sudah jauh dari awal dan sekarang sudah masuk keluarga mafia, dramanya makin ke mana-mana. Tapi ya, tetap saja menarik, karena fantasi seperti itu memang lagi dekat dengan imajinasi anak muda sekarang.

Tetapi bukan itu yang ingin aku soroti.

Yang ingin aku bahas adalah hubungan antara Fattah, Aqeela, dan Zara dan sedikit Harry. (Mohan? lewat aja, aku memang gak suka dia dari awal, apalagi waktu sama Aqeela. Lebih cocok dia sama Raisa menurutku.)

Dari awal, kita tahu Fattah dan Aqeela punya hubungan yang kuat. Empat tahun, bukan waktu yang sebentar. Tetapi semua mulai runyam sejak masuk asrama dan hadirnya Zara. Di sini sebenarnya pola masalahnya jelas sekali, dan ini bukan hanya di sinetron, ini sering terjadi di dunia nyata juga.

Fattah mulai dekat dengan Zara. Aqeela melihat itu, merasa tergantikan. Di sisi lain, Aqeela didekati Mohan yang niatnya memang mau balas Fattah. Fattah melihat itu, merasa dikhianati. Dan di titik ini, mereka tidak bicara baik-baik.

Yang terjadi justru asumsi, emosi, dan reaksi berlebihan. Mereka sama-sama melihat, sama-sama menilai, tapi tidak pernah benar-benar mengonfirmasi. Ditambah ego yang tinggi dan sama-sama berkepala panas, akhirnya hubungan yang dibangun selama empat tahun itu runtuh hanya karena hal-hal yang tidak pernah diluruskan. Ini seperti lingkaran salah paham miscommunication loop yang terus berputar sampai akhirnya semuanya hancur sendiri.

Dan yang lebih ironis, penyebabnya bukan karena tidak cinta, tapi karena tidak cukup dewasa secara emosional untuk mempertahankan cinta itu.

Masuk ke Fattah.

Awalnya dia bilang tidak cinta lagi ke Aqeela. Tapi setelah satu tahun, setelah semuanya berjalan, tiba-tiba dalam deeptalk dia bilang kalau dia cuma empati ke Zara, dan yang tetap ada di pikirannya itu Aqeela. Banyak yang bilang ini penulisnya ngawur. Tapi menurutku, justru ini realistis, 11 12 dengan kehidupan sekarang. Banyak orang-orang yang plin plan.

Dan, Fattah itu bukan berubah, dia itu baru sadar.

Perasaan yang sebenarnya sudah ada, tapi baru dipahami setelah semuanya terlambat. Waktu dekat dengan Zara, yang dia rasakan itu bukan cinta murni. Lebih ke empati, rasa ingin menyelamatkan, dan kebutuhan untuk merasa dibutuhkan. Makanya sekarang dia bisa bilang itu “cuma kasihan”.

Lalu kenapa dia baru “balik” sekarang?

Karena saat Aqeela masih ada, semuanya terasa biasa. Saat Aqeela pergi, dia masih terdistraksi. Tapi saat Aqeela sudah benar-benar bahagia dengan Harry, baru terasa kehilangan yang sebenarnya. Di titik ini, perasaan Fattah jadi campur aduk antara masa lalu, penyesalan, dan sedikit ego.

Karena, jujur saja, melihat seseorang yang dulu milik kita bisa bahagia tanpa kita itu menyakitkan. Tidak salah kan? #izin

Apalagi Aqeela sekarang terlihat lebih tenang, lebih bersinar, dan itu semua bukan karena Fattah, tapi karena Harry. Di sinilah muncul pertanyaan yang menurutku penting, apakah Fattah benar-benar ingin kembali karena cinta, atau karena tidak rela kehilangan?

Sekarang Aqeela.

Dia terlihat sudah bahagia, sudah punya Harry, sudah “baik-baik saja”. Tapi kalau dilihat lebih dalam, dia itu belum benar-benar selesai. Dia masih membantu hubungan Fattah dan Zara, masih hadir dalam hidup mereka, masih peduli. Ini tanda bahwa dia sudah move on secara hidup, tapi belum sepenuhnya secara emosi. 

Mungkin dia tidak ingin kembali, tapi dia juga belum sepenuhnya menutup pintu.

Kenapa dia tetap membantu? Bisa jadi karena dia belum mendapatkan closure yang utuh, atau karena cintanya ke Fattah berubah bentuk jadi kepedulian, atau bahkan ini caranya menyembuhkan diri dan meyakinkan bahwa dia sudah benar-benar selesai. Tapi ini juga berbahaya. Karena ketika ada momen seperti deeptalk itu, luka lama yang seharusnya sudah tertutup bisa terbuka lagi.

Sekarang Zara.

Aku ngerti kenapa banyak yang kesal—termasuk aku juga. Dari sudut pandangku, Zara tetap “perebut”. Dia tahu Fattah sudah punya Aqeela, bahkan dekat sebagai sahabat, tapi tetap masuk. Itu jelas salah. what's wrong with u, Zara?

Tapi kalau dilihat lebih dalam, Zara bukan sekadar karakter jahat. Dia punya luka, kurang kasih sayang, dan hidup yang tidak mudah. Ketika ada Fattah yang hadir, peduli, perhatian, dia menggenggam itu. Masalahnya, dia menggenggamnya dengan cara yang salah. Aku pernah membahas ini sebelumnya.

Dia membenarkan tindakannya dengan pikiran, “aku juga butuh bahagia”.

Dan saat dia bilang Aqeela itu penghambat, itu sebenarnya bukan fakta. Itu ketakutan. Zara sadar bahwa Fattah belum pernah benar-benar selesai dengan Aqeela. Makanya dia jadi defensif, bahkan sampai menyerang Aqeela secara tidak langsung.

Jadi pada akhirnya, Zara itu bukan korban sepenuhnya, tapi juga bukan sekadar jahat. Dia adalah orang yang terluka, tapi memilih cara yang melukai orang lain. Aku ingin mengapresiasi penulis karena telah menciptakan tokoh Zara, dan mengapresiasi Nicole Rossi karena telah memerankan tokoh Zara yang dibenci para penonton dan itu cukup berhasil menggeser posisi Luna.

Terakhir, Harry.

Kalau Fattah itu penuh emosi, Harry itu tenang. Kalau Fattah memberi 100, Harry memberi 101, bahkan tanpa diminta. Dia stabil, konsisten, dan tidak membuat Aqeela ragu. Mungkin memang tidak se-“menggebu” Fattah, tapi justru menenangkan. Dan di dunia nyata, hubungan seperti ini yang biasanya bertahan.

Jadi kalau semuanya dirangkum, hubungan Fattah dan Aqeela itu sebenarnya bukan gagal karena kurang cinta. Tapi karena ego, asumsi, komunikasi yang tidak pernah jujur, dan timing yang salah.

Dan kembalinya Fattah sekarang?

Bisa jadi bukan karena cinta yang baru, tapi karena penyesalan yang akhirnya dia pahami.

Aku sendiri memang tim Fattah-Aqeela. Tapi kalau untuk balikan sekarang, enggak dulu. Karena cinta yang besar tidak selalu layak diperjuangkan kembali, apalagi kalau itu yang pernah menghancurkan kita.

Dan sekarang, Aqeela sudah bahagia, dan itu bukan karena Fattah.

Pada akhirnya, cerita ini bukan tentang siapa yang lebih mencintai, tapi tentang siapa yang benar-benar siap untuk menjaga. Fattah mungkin masih menyimpan rasa, tapi cinta saja tidak cukup jika cara mencintainya masih sama seperti dulu. Penuh asumsi, ego, dan tanpa kejelasan. Sementara Aqeela, pelan-pelan belajar berdiri di tempat yang lebih tenang, menemukan bahagia tanpa harus kembali ke hal yang pernah melukainya.

Dan di titik ini, mungkin yang paling penting bukan tentang kembali, tapi tentang tahu kapan harus berhenti. Karena tidak semua yang pernah indah harus diulang, dan tidak semua yang kembali itu layak untuk diterima lagi.

Jadi, jangan ragu untuk meng-cut off orang yang masih bingung dengan dirinya sendiri, apalagi yang hadir tanpa kejelasan tapi seenaknya memberi luka. Kadang, memilih pergi bukan berarti kalah, justru itu cara paling jujur untuk menjaga diri sendiri. Be your self ❤️

Komentar