Sebelumnya mohon maaf jika sejak Minggu lalu opiniku banyak berisikan tentang rasa yang ada di dalam diri manusia. Kali ini pun entah ini bisa disebut review film atau sekadar opini saja, tapi aku ingin kembali mengutarakan isi pikiranku tentang hal yang sama.
Kita semua tahu bahwa setiap manusia datang silih berganti dalam hidup kita. Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Mau bagaimanapun kita memaksakan untuk lebih lama tinggal bersama seseorang, jika memang masanya sudah habis, apa boleh buat?
Kalaupun dipaksa, rasanya akan berbeda. Karena setiap orang berubah. Orang yang kamu temui dulu tidak akan sama dengan orang yang kamu temui sekarang.
Begitulah yang dirasakan oleh Seo Mi-rae, pemeran utama wanita dalam drama Korea Boyfriend on Demand yang memiliki 10 episode.Namun kali ini yang ingin kubahas hanya episode 1 sampai 3 saja.
Seo Mi-rae adalah seorang produser Webtoon di sebuah perusahaan di Korea bernama Naemo. Pekerjaannya adalah membimbing para penulis untuk mengarahkan bagaimana alur cerita yang mereka buat. Mi-rae termasuk gadis yang sangat sibuk. Waktu dalam satu hari memang 24 jam, tetapi rasanya ia hanya benar-benar memiliki tiga jam saja untuk dirinya sendiri. Dan waktu itu pun tidak ingin ia buang sia-sia hanya untuk menangisi lelaki lain, menangisi mantannya.
Ya, Mi-rae punya mantan bernama Kim Se-jun.
Hubungan mereka sudah terjalin sejak masa SMA. Awalnya Se-jun justru menyukai teman Mi-rae. Namun karena Mi-rae sering bersama Se-jun, perlahan perasaan Se-jun berubah arah kepada Mi-rae. Kisah mereka sangat romantis. Mulai dari lulus SMA, berkuliah di universitas yang sama, mengantar Se-jun menjalani wajib militer, hingga akhirnya Mi-rae mendapatkan pekerjaan. Kisah cinta mereka tidak sesingkat itu. Namun pada akhirnya Se-jun merasa Mi-rae berubah.
Mi-rae dianggap lebih mementingkan pekerjaannya, lebih sering marah, sering ngambek, dan bahkan sering lupa pada janji mereka. Pertemuan mereka semakin jarang, dan hubungan itu perlahan menjadi renggang. Akhirnya Se-jun memutuskan hubungan mereka.
Se-jun merasa Mi-rae sudah banyak berubah. Mi-rae bukan lagi orang yang dulu ia kenal. Namun di sisi lain, Mi-rae tidak merasa ada perbedaan dalam hubungan mereka.
Lalu Se-jun mengatakan sesuatu yang cukup menancap,
“Semua orang berubah.”
“Dan kau juga berubah.”
“Jika kau menerima perubahan seseorang dan bisa mencintai perubahan itu, kau bisa bersamanya seumur hidup.”
Sejak berakhirnya hubungan itu, Mi-rae mulai menyalahkan dirinya sendiri. Ia terus bertanya-tanya, apa salahnya? Apakah ia terlalu sibuk? Apakah ia terlalu pemarah? Apa yang sebenarnya berubah dari dirinya?
Sejak saat itu Mi-rae menjadi memiliki trust issue terhadap laki-laki yang mendekatinya. Ia merasa semuanya tidak adil. Mengapa hanya dia yang masih memikirkan Se-jun, sementara sekarang Se-jun sudah akan menikah dengan teman Mi-rae yang dulu? Mi-rae masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
Suatu hari, ketika calon istri Se-jun mengirimkan undangan pernikahan ke grup angkatan mereka, Se-jun justru menelepon Mi-rae. Ia menanyakan bagaimana keadaan Mi-rae setelah melihat undangan itu.
Jujur saja, menurutku di bagian ini Se-jun terlihat seperti laki-laki yang agak plin-plan. Jika memang ia sudah benar-benar selesai dengan masa lalunya, mengapa ia masih peduli dengan Mi-rae yang jelas-jelas masih terjebak pada masa lalu mereka?
Di saat yang sama, Mi-rae mendapatkan tawaran untuk mencoba sebuah simulasi kencan daring berbasis AI bernama Boyfriend on Demand. Alat ini memungkinkan seseorang masuk ke dalam dunia Webtoon. Caranya cukup dengan menempelkannya ke kepala, memilih cerita Webtoon yang diinginkan, lalu saat tertidur mereka akan merasa seolah benar-benar masuk ke dalam dunia tersebut.
Dalam masa percobaan itu, Mi-rae bertemu dengan seseorang bernama Eun-ho. Sosok Eun-ho sangat mirip dengan mantannya, Se-jun. Bahkan latar universitas yang mereka kunjungi di dalam simulasi pun sama seperti tempat Mi-rae dan Se-jun dulu belajar bersama.
Saat bersama Eun-ho, Mi-rae terlihat jauh lebih lepas. Ia seperti kembali ke masa ketika semuanya masih terasa sederhana.
Pada awalnya Mi-rae sangat membenci Se-jun. Ia merasa semuanya tidak adil. Mengapa hanya dia yang merasakan sakit sebesar itu, sementara Se-jun terlihat sangat bahagia bersama calon istrinya?
Namun ketika Mi-rae masuk ke dalam dunia Boyfriend on Demand, kenangan-kenangan itu justru mulai terputar kembali. Anehnya, semakin kenangan itu muncul, perlahan rasa bencinya kepada Se-jun juga mulai berkurang.
Mungkin karena ia mulai melihat masa lalunya dari sudut pandang yang berbeda.
Terus juga perihal perkataan Se-jun, “semua orang berubah.”
Jika dipikirkan lagi, mungkin Se-jun memang mencintai Mi-rae yang pertama kali ia temui dulu, bukan Mi-rae yang sekarang. Ia menyukai Mi-rae yang masih memiliki banyak waktu untuknya, Mi-rae yang selalu ada di setiap momen mereka, Mi-rae yang tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Namun kehidupan Mi-rae terus berjalan. Ia mulai mengejar kariernya, mulai memikirkan masa depannya, dan secara perlahan sikapnya pun ikut berubah. Waktunya semakin terbagi, emosinya semakin mudah lelah, dan hal-hal yang dulu terasa sederhana menjadi lebih rumit.
Di situlah Se-jun mulai merasakan kejanggalan. Bukan karena Mi-rae menjadi orang yang buruk, tetapi karena Mi-rae yang sekarang tidak lagi sama dengan Mi-rae yang dulu ia kenal.
Se-jun sebenarnya sudah mencoba bertahan. Ia melihat perubahan itu perlahan-lahan. Namun pada akhirnya ia sampai pada titik di mana ia merasa tidak lagi berada dalam hubungan yang sama seperti sebelumnya.
Karena terkadang yang membuat sebuah hubungan berakhir bukan hanya karena seseorang berubah, tetapi karena orang yang mencintai kita tidak siap mencintai versi baru dari diri kita. Dan mungkin itulah yang terjadi pada Mi-rae dan Se-jun.
Mereka pernah berjalan bersama dalam waktu yang lama, tetapi perubahan hidup membawa mereka ke arah yang berbeda.
Kenapa drama Boyfriend on Demand sangat terkenal belakangan ini? Menurutku karena penulis, produser, dan sutradaranya sangat peka terhadap lingkungan sekitarnya.
Sekarang ini ada banyak sekali “Mi-rae” di luar sana. Banyak orang yang mengalami luka dari masa lalu mereka, hingga akhirnya memiliki trust issue. Mereka menjadi takut untuk memulai hubungan baru dengan manusia lagi. Lalu tanpa sadar mereka mulai berkhayal, mencari pelarian, bahkan membayangkan pasangan virtual untuk menutupi rasa sedih yang masih tersisa.
Karena terkadang yang sebenarnya dicari bukanlah pasangan baru, melainkan tempat yang terasa aman untuk hati yang pernah terluka.
Komentar
Posting Komentar