Sore itu, masjid tua di bantaran Sungai Kapuas tampak tenang. Cat birunya masih mencolok di antara rumah-rumah warga, sementara angin pelan menyapu halaman yang tak lagi seramai dulu. Tak banyak aktivitas di luar waktu salat. Pintu tidak terkunci, tetapi ruang di dalamnya lebih sering lengang.
Padahal, menurut cerita warga, Masjid Jami’ Al-Ikhlas di Mandomai pernah menjadi pusat kehidupan kampung. Anak-anak datang untuk mengaji, sebagian hanya bermain, sementara orang dewasa tak segan singgah sekadar berbincang atau membantu membersihkan masjid. Suasana itu perlahan berubah. Kini, meski bangunannya berdiri lebih besar dan tampak lebih modern, kehidupan di dalamnya tak lagi seramai masa lalu.
Masjid Jami’ Al-Ikhlas bukan sekadar tempat ibadah biasa. Didirikan pada 4 Agustus 1903, masjid ini menjadi salah satu yang tertua di Kalimantan Tengah. Selama lebih dari satu abad, bangunan ini menjadi saksi perkembangan Islam di wilayah Mandomai dan sekitarnya. Nama-nama para pendirinya bahkan diabadikan dalam empat tiang utama di dalam masjid yang dikenal sebagai Tiang Guru.
Di antara cerita tentang tiang-tiang tersebut, tersimpan pula kisah yang hidup dalam ingatan warga. M, salah seorang warga yang pernah menjadi pengurus masjid, menuturkan bahwa keluarganya memiliki keterkaitan dengan salah satu tiang tersebut.
“Salah satu tiang guru di dalam masjid itu berasal dari Mbah buyut kami, Haji Jafar. Beliau juga ikut membantu dalam pembangunan masjid,” ujarnya.
Menurutnya, kayu yang digunakan merupakan milik pribadi Haji Jafar yang kemudian disumbangkan untuk pembangunan masjid. Hingga kini, keluarga mereka meyakini bahwa salah satu dari empat Tiang Guru itu berasal dari sumbangan tersebut, meski tidak diketahui secara pasti tiang yang mana.
Masjid ini sendiri masih mempertahankan sejumlah bagian aslinya. Tiang-tiang kayu ulin yang kokoh tetap berdiri, menyimpan usia panjang yang telah melewati berbagai zaman. Mimbar kayu lama pun masih digunakan, menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini. Letaknya yang berada di bantaran Sungai Kapuas semakin memperkuat kesan historis yang melekat pada bangunan ini.
Namun, waktu tetap membawa perubahan. Renovasi dilakukan untuk memperbesar dan memperkuat bangunan. Fasilitas pun semakin lengkap. Secara fisik, masjid ini tampak lebih modern dibandingkan sebelumnya. Meski begitu, tidak semua hal berkembang dengan cara yang sama.
M mengingat betul bagaimana suasana masjid di masa lalu.
“Dulu masjid itu tidak pernah kosong. Selalu ada anak-anak yang datang, entah untuk mengaji, bermain, atau sekadar membantu bersih-bersih,” katanya.
“Sekarang paling ramai hanya saat waktu salat. Setelah itu, kembali sepi.”
Perubahan itu terasa bukan hanya pada bangunan, tetapi juga pada kehidupan di dalamnya. Jika dahulu masjid menjadi ruang berkumpul yang hidup sepanjang hari, kini fungsinya lebih terbatas pada waktu-waktu tertentu saja.
Meski demikian, Masjid Jami’ Al-Ikhlas tetap berdiri sebagai penanda penting bagi masyarakat Mandomai. Ia bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga bagian dari sejarah panjang yang menghubungkan generasi demi generasi dari para pendiri, para pengurus, hingga warga yang pernah menghidupkannya.
Di tengah perubahan zaman, masjid itu tetap ada. Mungkin tidak lagi seramai dulu, tetapi jejak waktu yang tersimpan di dalamnya tidak pernah benar-benar hilang.
Komentar
Posting Komentar