Libur Lebaran selalu punya caranya sendiri untuk terasa istimewa. Bukan hanya tentang hari rayanya, tapi juga tentang hari-hari di sekitarnya, tentang rumah yang kembali ramai, dapur yang tak pernah benar-benar dingin, serta waktu yang terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.
Lebaran tahun ini pun terasa seperti itu. Penuh, padat, tapi juga hangat.
Aku pulang kampung ke Mandomai pada Rabu, 18 Maret 2026. Perjalanan itu bukan sekadar pulang, tapi seperti kembali ke ritme yang berbeda, lebih pelan, lebih nyata. Hari pertama langsung diisi dengan bersih-bersih rumah. Debu-debu yang menempel, barang-barang yang lama tak tersentuh, semuanya dibenahi satu per satu. Rasanya seperti menyiapkan ruang, bukan hanya untuk Lebaran, tapi juga untuk kebersamaan.
Sore harinya, kami memutuskan untuk pergi ke Pulang Pisau. Tujuannya sederhana, berbuka puasa di tempat makan sambal bakar yang sedang ramai dibicarakan orang-orang. Tempat itu penuh, suara orang bercampur dengan aroma sambal dan lauk yang dibakar. Momen berbuka di luar seperti itu terasa berbeda, lebih santai, lebih ramai, dan entah kenapa lebih berkesan.
Di kampung halamanku, suasana menjelang Lebaran selalu punya ciri khas tersendiri. Satu hari sebelum hari raya, akan ada pasar besar yang digelar. Orang-orang datang dari berbagai arah, berjalan berdesakan, membeli berbagai kebutuhan. Di sana, dijual kue-kue Lebaran, sambal masakan seperti kare, soto, rendang, hingga daging sapi segar untuk persiapan hari besar. Suasana itu bukan sekadar ramai, tapi hidup, penuh warna, suara, dan aktivitas yang seolah tak pernah berhenti.
Kamis pagi, kami ikut menjadi bagian dari keramaian itu. Karena mengira Lebaran jatuh pada hari Jumat, kami berangkat ke pasar sejak pagi untuk membeli berbagai kebutuhan. Daging menjadi salah satu yang utama, disusul bahan-bahan lain yang akan diolah sepanjang hari.
Siangnya, kami melanjutkan perjalanan ke Kuala Kapuas. Tujuannya cukup spesifik, mencari minuman soda seperti Sprite dan Fanta, yang entah kenapa selalu terasa identik dengan suasana Lebaran. Rasanya ada yang kurang jika di meja tamu tidak ada minuman dingin berwarna-warni itu.
Namun kenyataannya berbeda. Kami berkeliling cukup lama, masuk ke beberapa toko, mencari dari satu tempat ke tempat lain tapi semuanya sudah habis. Tidak ada lagi Sprite, tidak ada lagi Fanta. Mungkin karena semua orang punya kebiasaan yang sama.
Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak memaksakan. Sebagai gantinya, kami sepakat untuk membuat es buah sendiri. Keputusan sederhana, tapi justru terasa lebih “rumah”.
Hari Kamis itu berubah menjadi hari yang sangat sibuk. Dapur menjadi pusat aktivitas. Kami mulai memasak berbagai hidangan, sambil terus bergerak dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.
Salah satu yang paling menyita waktu adalah membuat bolu kelamben. Kami membuat lima buah sekaligus, karena keluarga yang akan datang cukup banyak , papahku adalah anak tertua, jadi rumah kami menjadi salah satu pusat berkumpul. Satu bolu membutuhkan waktu sekitar 45 menit hingga matang. Dan karena aku yang membuatnya, tentu saja aku memilih sesuai seleraku, dua bolu matcha, dua bolu vanilla, dan satu bolu cokelat. Kombinasi yang sederhana, tapi cukup memuaskan, aku. hehehe.
Selain itu, kami juga membuat mie ayam dan bakso. Untuk sambalnya, kami memilih membeli agar lebih praktis. Di sela-sela memasak, kami juga mencuci mangkuk, gelas, dan toples yang akan digunakan untuk menjamu tamu. Tidak hanya itu, kami juga membuat bunga rampai, mengantar hampers ke beberapa kerabat, serta menunaikan zakat fitrah.
Hari itu benar-benar padat. Waktu berjalan tanpa terasa. Bahkan kami hampir tidak menyentuh ponsel sama sekali. Televisi di rumah pun tidak menyala. Semua fokus pada satu hal, persiapan Lebaran.
Pekerjaan baru benar-benar selesai sekitar pukul 10 malam. Lelah, tapi juga puas.
Namun di tengah semua itu, kabar datang. Lebaran ternyata jatuh pada hari Sabtu, bukan Jumat seperti yang kami kira.
Perasaan saat itu campur aduk. Kaget, sedikit bingung, tapi juga ada rasa lega karena masih punya satu hari tambahan untuk beristirahat.
Hari Jumat pun kami jalani dengan lebih santai. Tidak ada lagi aktivitas berat. Kami hanya fokus membereskan rumah dan halaman, memastikan semuanya benar-benar siap.
Hingga akhirnya, hari yang ditunggu tiba.
Pagi Lebaran dimulai lebih awal dari biasanya. Mamaku sudah terbiasa berangkat ke masjid lebih cepat, sejak Lebaran tahun sebelumnya di Palangka Raya. Katanya, supaya bisa mendapatkan shaf di dalam masjid. Kebiasaan itu terbawa sampai ke kampung.
Salat Id seharusnya dimulai pukul 07.00 WIB, tapi kami sudah tiba di masjid sekitar pukul 06.45 WIB. Menunggu selama itu terasa lama, tapi suasananya khas, orang-orang datang dengan pakaian terbaik mereka, saling menyapa, anak-anak berlarian, dan udara pagi yang masih terasa segar.
Di masjid, kami juga bertemu dengan beberapa kerabat. Kami berbincang ringan, saling bermaafan, dan bertukar cerita singkat setelah sekian lama tidak bertemu. Dari perbincangan itu, muncul hal yang cukup mengejutkan, ternyata salah satu dari mereka memiliki banyak stok minuman soda di rumah, bahkan hingga lima lusin jumlahnya.
Mendengar itu, mama langsung tertarik. Setelah sebelumnya kami berkeliling Kuala Kapuas dan tidak menemukan Sprite maupun Fanta sama sekali, kesempatan ini terasa seperti jawaban yang tidak disangka-sangka. Mama pun mengatakan ingin membelinya, dan akhirnya kerabat kami tersebut bersedia menjual sebagian sekitar setengah lusin.
Pertemuan yang awalnya hanya sekadar silaturahmi itu, tanpa diduga justru menyelesaikan “pencarian” kami yang sempat gagal sehari sebelumnya.
Setelah salat selesai, aku sempat bertemu dengan mantanku. Sebuah pertemuan yang tidak direncanakan, singkat, tapi cukup meninggalkan kesan tersendiri di hari yang penuh momen itu. Aku masih kesal padanya, bisa-bisanya dia dulu selingkuh dengan rekan kerjanya di RS Doris. Yasudahlah.
Namun, kehebohan sebenarnya justru dimulai saat kami kembali ke rumah.
Sebagai satu-satunya anak perempuan yang cukup besar di rumah, aku menjadi orang yang paling sibuk. Tamu datang silih berganti, dari keluarga papah, keluarga mamah, hingga teman-teman adikku. Rumah benar-benar tidak pernah sepi. Bahkan hingga pukul 9 malam, masih ada saja yang datang.
Hal yang cukup terasa adalah, tidak ada satu pun temanku yang datang berkunjung. Di tengah ramainya rumah, ada ruang kecil yang terasa sepi, meskipun tidak terlalu lama dipikirkan karena kesibukan yang terus berjalan.
Selama dua hari, Sabtu dan Minggu, suasana rumah sangat hectic. Hampir tidak ada waktu untuk benar-benar beristirahat. Semuanya berjalan cepat dan padat.
Mungkin karena itulah, kami baru benar-benar bisa “berlibur” di hari ketiga Lebaran.
Awalnya, kami berencana untuk menyewa mobil agar perjalanan lebih nyaman. Namun karena lupa melakukan booking sebelum Lebaran, saat hari H kami tidak mendapatkan satu pun mobil yang tersedia.
Akhirnya, kami memutuskan untuk menggunakan motor.
Salah satu perjalanan yang kami lakukan adalah ziarah ke Kelampayan, pada hari Senin, 3 Syawal 1447 H atau bertepatan dengan 23 Maret 2026. Waktu itu dipilih karena bertepatan dengan akan diselenggarakannya puncak haul Datu Kelampayan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Perjalanan dimulai dari Mandomai pukul 05.30 WIB. Udara pagi masih dingin, jalanan belum terlalu ramai. Kami melaju perlahan, menikmati perjalanan.
Sekitar pukul 08.00 WIB, kami singgah di Anjir Serapat untuk sarapan. Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan.
Di tengah perjalanan, kami juga sempat bertamu ke rumah kerabat di Gudang Hirang, Sungai Tabuk. Kunjungan singkat itu menambah kehangatan perjalanan.
Kami melewati berbagai daerah, Kapuas, kemudian menyeberang menggunakan feri di Barimba, melintasi Anjir Serapat dan Anjir Muara, hingga akhirnya sampai di Jembatan Barito. Jembatan itu selalu terasa megah setiap kali dilewati.
Perjalanan berlanjut ke Handil Bakti, Sungai Tabuk, Sungai Batang, Martapura, Astambul, sebelum akhirnya tiba di Kelampayan dan Lok Gobang.
Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh sekitar empat jam itu terasa lebih panjang, karena kami banyak singgah, di Alfamart, di warung makan, dan di pom bensin. Tapi justru di situlah letak keseruannya.
Sesampainya di sana, suasana terasa berbeda. Banyak peziarah datang dari berbagai daerah. Semua membawa niat yang sama.
Selama liburan ini, aku benar-benar merasa berlibur. Aku sangat jarang memainkan ponsel. Hari-hariku diisi dengan jalan, bercanda, dan menikmati waktu bersama keluarga. Bahkan tanpa sadar, kulitku menjadi lebih gelap karena terlalu sering berada di luar.
Sebenarnya, ada banyak sekali momen yang ingin kutuliskan. Baik sebagai feature maupun sekadar cerita di blog. Tapi sering kali aku lupa untuk mengunggahnya.
Mungkin karena aku terlalu sibuk menjalani semuanya.
Dan mungkin memang begitu seharusnya.
Tidak semua hal harus langsung didokumentasikan. Ada momen-momen yang lebih baik dirasakan sepenuhnya terlebih dahulu.
Karena pada akhirnya, yang tersisa bukan hanya foto atau tulisan tapi juga kenangan yang benar-benar hidup.
Komentar
Posting Komentar