Indonesia dikenal sebagai negara dengan keberagaman agama yang hidup berdampingan. Dari sekian banyak keyakinan yang dianut masyarakat, agama Nasrani menjadi salah satu yang turut berkembang di berbagai daerah, termasuk di Kalimantan Tengah. Di Kelurahan Mandomai, Kabupaten Kapuas, keberadaan umat Kristiani telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Hal itu tercermin dari berdirinya Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Imanuel Mandomai. Gereja yang telah berdiri sejak tahun 1876 ini menjadi salah satu penanda awal berkembangnya ajaran Kristen di wilayah tersebut. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, bangunan ini juga menyimpan nilai sejarah yang panjang, hingga akhirnya ditetapkan sebagai situs cagar budaya peringkat nasional pada tahun 2024.
Terletak di bantaran Sungai Kapuas, gereja ini tampak sederhana dari luar, namun menyimpan keunikan yang tidak banyak dimiliki bangunan lain. Meski suasananya cenderung tenang di luar waktu ibadah, gereja ini tetap aktif digunakan, terutama setiap hari Minggu pagi saat jemaat berkumpul untuk beribadah.
Keistimewaan gereja ini terlihat dari arsitekturnya. Seluruh fondasi dan tiang utama menggunakan kayu ulin yang terkenal kuat dan tahan lama. Hingga kini, material tersebut masih berdiri kokoh meski telah berusia lebih dari satu setengah abad. Di bagian dalam, terdapat kaca patri yang memancarkan cahaya berwarna, menghadirkan suasana khidmat saat ibadah berlangsung. Mozaik tersebut disebut-sebut sebagai salah satu yang langka.
Selain itu, mimbar gereja memiliki struktur unik karena hanya ditopang oleh satu tiang utama yang tertanam langsung ke tanah. Atap bangunan dibuat menyerupai rumah betang, rumah adat Dayak, serta dihiasi ornamen talawang dan ukiran huruf-huruf kuno. Perpaduan ini menjadikan gereja sebagai simbol pertemuan antara budaya lokal dan pengaruh Eropa.
Seiring berjalannya waktu, fungsi gereja ini tidak hanya terbatas pada ibadah rutin. Gereja juga digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan, termasuk pemberkatan pernikahan yang menjadi momen penting bagi jemaat. Pada saat-saat tertentu, suasana gereja kembali terasa lebih hidup dengan kehadiran keluarga dan kerabat yang berkumpul.
Di samping gereja, berdiri pula lembaga pendidikan di bawah naungan GKE, seperti taman kanak-kanak dan sekolah menengah kejuruan. Menariknya, sekolah-sekolah ini tidak hanya diperuntukkan bagi umat Kristen, tetapi juga terbuka bagi siswa dari berbagai latar belakang agama. Hal ini mencerminkan nilai keterbukaan yang telah tumbuh di tengah masyarakat.
Meski berada di wilayah yang berbeda, Gereja GKE Imanuel dan Masjid Jami’ Al-Ikhlas terletak cukup berdekatan. Keberadaan keduanya menjadi gambaran nyata kehidupan masyarakat Mandomai yang rukun dalam keberagaman. Perbedaan tidak menjadi penghalang, melainkan bagian dari keseharian yang telah lama dijalani bersama.
Di tengah perkembangan zaman, Gereja GKE Imanuel Mandomai tetap berdiri sebagai bagian dari sejarah sekaligus kehidupan masyarakat. Meski tidak selalu ramai di setiap waktu, gereja ini terus menjalankan perannya—sebagai tempat ibadah, ruang kebersamaan, dan simbol toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
Komentar
Posting Komentar