Beberapa waktu terakhir, aku merasa pembahasan tentang gay dan lesbian semakin sering muncul di berbagai tempat. Entah itu di media sosial, berita, ataupun pembicaraan dengan teman-teman. Topik ini seperti selalu ada saja yang membicarakannya. Karena itulah, banyak orang mulai merasa bahwa fenomena tersebut sekarang semakin sering ditemui di sekitar kita.
Namun di tengah ramainya pembahasan itu, ada satu hal yang membuatku cukup sering berpikir. Aku merasa sebagian orang sekarang menjadi lebih cepat memberi penilaian terhadap orang lain. Hal-hal yang sebenarnya terlihat biasa saja kadang langsung dikaitkan dengan orientasi seksual seseorang.
Misalnya ketika aku melihat dua orang laki-laki yang terlihat sangat akrab. Mereka berjalan sambil merangkul bahu temannya atau bercanda dengan cara yang memang sudah biasa dilakukan oleh sahabat lama. Situasi seperti ini sebenarnya sering terjadi di banyak tempat, entah di sekolah, di kampus, atau di lingkungan sekitar kita. Tetapi tidak jarang, orang yang melihat justru langsung beranggapan bahwa kedekatan itu memiliki arti lain.
Aku juga sering melihat bagaimana laki-laki yang memiliki sikap lembut atau terlihat lebih gemulai dengan cepat diberi label tertentu. Padahal menurutku, setiap orang memang memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang berbicara dengan nada tegas, ada juga yang terdengar lebih halus. Perbedaan seperti itu seharusnya tidak langsung dijadikan dasar untuk menilai orientasi seksual seseorang.
Hal yang sama juga terjadi ketika seorang laki-laki lebih sering berteman dengan perempuan. Ada saja orang yang langsung mengaitkannya dengan anggapan tertentu. Padahal bisa saja ia memang merasa lebih nyaman berada di lingkungan pertemanan tersebut. Bagiku, kedekatan dalam pertemanan sering kali terbentuk karena rasa cocok, satu frekuensi, atau sekadar merasa nyambung ketika berbicara.
Sejujurnya, aku juga merasa sosial media punya peran besar dalam fenomena ini. Dengan segala konten yang muncul di feed, TikTok, Instagram, atau Twitter, isu tentang gay dan lesbian jadi terasa lebih dekat dan sering terlihat. Aku kadang menyadari, hal-hal yang dulu mungkin jarang aku dengar, sekarang bisa muncul hanya dengan scroll beberapa menit saja.
Efeknya, tanpa disadari, otak kita jadi lebih sensitif terhadap tanda-tanda tertentu. Misalnya, kalau ada cowok yang terlihat lembut, atau cewek yang akrab dengan teman sesama jenis, langsung muncul asumsi di kepala kita bahwa ini pasti ada hubungannya dengan orientasi seksual. Padahal, dari pengalamanku, kedekatan itu sering cuma karena sudah lama berteman, nyaman satu sama lain, atau sekadar sifat pribadi.
Selain itu, sosial media kadang menimbulkan overexposure. Berita, meme, atau diskusi publik membuat orang merasa fenomena ini “meningkat drastis”, padahal bisa saja yang berubah hanyalah cara pandang masyarakat. Aku sendiri kadang harus sengaja tarik napas dan ingat, bahwa apa yang terlihat di layar tidak selalu merepresentasikan kenyataan di dunia nyata.
Kalau dipikirkan lagi, mungkin kecenderungan untuk cepat memberi label ini muncul karena pikiran kita sudah terlalu sering terpapar berbagai informasi tentang isu tersebut. Ketika sebuah topik terus muncul di media, berita, dan percakapan publik, tanpa sadar cara kita memandang orang lain juga ikut berubah. Hal-hal yang sebenarnya biasa saja akhirnya terlihat seperti memiliki makna tertentu.
Karena itu, aku merasa kita perlu sedikit lebih berhati-hati sebelum menyimpulkan sesuatu tentang orang lain. Tidak semua kedekatan antar teman, cara berbicara, atau lingkungan pertemanan seseorang bisa dijadikan dasar untuk menilai orientasi seksualnya. Kadang, dua orang yang terlihat sangat akrab memang hanya sedang menikmati pertemanan yang tulus tanpa makna lain di baliknya.
Komentar
Posting Komentar