Pasar Jumat Mandomai: Membaur di Tengah Perubahan, Tetap Jadi Andalan Warga

Sejak langkah pertama memasuki kawasan Pasar Jumat Mandomai, keramaian langsung terasa tanpa jeda. Deretan payung warna-warni dan tenda sederhana berdiri rapat di sepanjang jalan, menaungi para pedagang yang sibuk melayani pembeli. Suara tawar-menawar saling bersahutan, bercampur dengan deru kendaraan dan langkah kaki yang terus bergerak. Ruang terasa semakin sempit ketika motor dan mobil diparkir di berbagai sudut, membuat pengunjung harus berjalan perlahan di tengah padatnya arus manusia.

Pasar Jumat di Mandomai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, telah lama menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Pasar ini hanya berlangsung satu kali dalam sepekan, setiap hari Jumat, dan dikenal sebagai pasar besar yang menyediakan kebutuhan pokok secara lengkap, mulai dari beras, ikan, sayur-mayur, hingga berbagai keperluan rumah tangga lainnya. Bagi banyak warga, pasar ini menjadi tempat utama untuk berbelanja sekaligus menyiapkan kebutuhan selama satu minggu ke depan.

Di hari-hari biasa, masyarakat masih dapat memenuhi kebutuhan melalui pedagang keliling, penjual sayur di dermaga, maupun warung kecil di sekitar permukiman. Namun, pilihan yang tersedia tidak selengkap dan tidak semurah yang ditawarkan di Pasar Jumat. Itulah sebabnya, warga dari berbagai wilayah tetap datang, meski harus menempuh jarak yang tidak dekat.

Wajah pasar ini, bagaimanapun, tidak lagi sama seperti dulu. Perubahan mulai terasa sejak jembatan yang menjadi akses utama sempat roboh. Dahulu, setiap jenis dagangan memiliki tempat tersendiri. Ada blok khusus untuk pakaian, beras, ikan, maupun sayur, sehingga pembeli dapat langsung menuju area yang dituju.

Kini, batas-batas itu perlahan hilang. Para pedagang berbaur dalam satu kawasan yang sama. Penjual ikan berdampingan dengan pedagang sayur, sementara beras dijajakan tidak jauh dari lapak pakaian atau makanan siap santap. Pasar terasa lebih padat dan tidak lagi teratur, namun justru menghadirkan dinamika yang lebih hidup.

Kepadatan paling terasa di wilayah penjual sembako, seperti beras, ikan, sayur, dan kebutuhan dapur lainnya. Di area ini, pengunjung kerap berdesakan. Udara terasa pengap akibat banyaknya orang yang berlalu-lalang dalam ruang yang terbatas. Hampir tidak pernah ada momen sepi di titik tersebut, terutama saat jam-jam ramai.

Di tengah kondisi itu, aktivitas tawar-menawar tetap menjadi warna khas yang tak tergantikan. Para ibu dengan cekatan menawar harga, seolah telah terbiasa dengan ritme pasar yang cepat dan padat. Percakapan singkat berlangsung di hampir setiap lapak, menandakan hubungan yang akrab antara penjual dan pembeli.

Kepadatan juga terlihat sejak bagian awal pasar. Jalanan dipenuhi kendaraan yang datang silih berganti. Sepeda motor diparkir di berbagai tempat, mulai dari halaman rumah warga hingga area sekitar masjid. Di beberapa rumah, pemilik memanfaatkan halaman sebagai lahan parkir bagi pengunjung, sementara di masjid, pengunjung memarkir kendaraan secara mandiri dan memberikan sumbangan ke kotak amal.
Ibu K, seorang pembeli asal Anjir Kalampan, mengaku tetap setia datang ke Pasar Jumat meski jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Baginya, pasar ini selalu menjadi tujuan utama setiap pekan.

“Sekalian belanja untuk seminggu. Lauk-pauk dibersihkan, dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan. Kalau ingin memasak, tinggal diambil,” ujarnya.

Menurutnya, suasana pasar mencapai puncak keramaian menjelang Hari Raya Idulfitri. Ia bahkan memilih berbelanja satu minggu sebelum Lebaran untuk mengantisipasi lonjakan harga.

“Harga daging waktu itu naik cukup drastis, tetapi tetap dibeli karena kebutuhan,” katanya.

Meski demikian, ia menilai suasana Pasar Jumat kali ini tidak seramai pekan menjelang Lebaran, seperti yang terjadi pada 13 Maret lalu, ketika jumlah pengunjung meningkat tajam dan membuat pasar jauh lebih padat dari biasanya.

Bagi masyarakat Mandomai, Pasar Jumat bukan sekadar tempat berbelanja. Di tengah tatanan yang berubah dan ruang yang semakin padat, pasar ini tetap menjadi tempat bertemunya kebutuhan, kebiasaan, dan kehidupan. Riuhnya mungkin tidak lagi sama seperti dulu, tetapi denyutnya tetap terasa hidup, membaur, dan terus dinantikan setiap pekan.

Komentar