Sedikit Alay

Narasi kali ini tentang aku yang suka budaya Korea. Sedikit alay.
Dan kuucapkan terimakasih karena berkenan membaca❤️

Aku suka budaya Korea dari kecil. Awalnya cuma karena rebutan TV. Waktu TK sampai kelas 1 SMP, aku tinggal di rumah nenek dan cuma ada satu TV. Sepupuku yang lebih besar suka nonton drama Korea, dan kami yang kecil sering nggak kebagian. Dari situ aku jadi ikut-ikutan nonton, lalu lama-lama suka sendiri.

Sekarang aku tahu Korea juga punya sisi yang nggak selalu baik, termasuk isu rasisme terhadap Muslim. Aku nggak pernah berniat tinggal di sana. Tapi aku tetap suka karya-karyanya, drama, film, dan grup musiknya.

Dua tahun terakhir, aku paling mengikuti SEVENTEEN. Awalnya, ya jujur saja karena visual. Tapi makin ke sini, aku lihat mereka bukan cuma soal tampilan. Mereka tumbuh sebagai self-producing idol, ikut bikin lagu dan konsep sendiri. Ada proses panjang di balik itu, dan di konten Going Seventeen jelas terlihat.

Tulisan ini tentang salah satu bias-ku, Joshua Hong atau Hong Jisoo. Dia lahir dan besar di Los Angeles, meski orangtuanya Korea. Dari kecil, dia dibesarkan ibunya seorang diri. Di salah satu podcast, dia cerita ibunya kerja tanpa henti. Senin sampai Minggu. Nggak ada libur tetap. Kerja apa saja yang bisa dikerjakan, demi mencukupi kebutuhan mereka berdua.

Karena itu, sekarang saat dia sudah sukses dan punya penghasilan sendiri, dia minta ibunya berhenti kerja. Dia bilang ibunya sudah cukup capek dari dulu, sekarang giliran dia yang tanggung semuanya. Buatku, itu bukan cuma soal uang. Itu soal tahu diri dan tahu balas budi.

Waktu pertama kali pindah ke Korea untuk trainee, awalnya dia ditemani ibunya. Setelah itu, dia benar-benar sendiri. Walaupun berdarah Korea, dia besar di Amerika. Bahasa dan budayanya berbeda. Di sana dia termasuk warga asing. Harusnya itu berat. Tapi dia tetap tenang. Bahkan saat Jeonghan hampir menyerah di masa trainee, Joshua yang justru menguatkan.

Dia tipe orang yang nggak banyak bicara, tapi kehadirannya terasa. Sabar. Nggak pernah ngomong dengan nada tinggi. Tatapannya lembut. Tertawanya bikin mata menyipit. Dia juga taat beragama dan kelihatan hangat sama anak-anak. Persis seperti Iyan.

Aku kagum sama ibunya. Membesarkan anak sendirian, bekerja tiap hari tanpa benar-benar istirahat, dan hasilnya terlihat jelas dari bagaimana anaknya tumbuh. Aku harap suatu hari nanti aku juga bisa sekuat itu.

Menurutku, Joshua bukti kalau jadi kuat itu nggak harus keras. Jadi baik itu nggak harus dibuat-buat. Gentleman itu bukan kuno, cuma jarang. Dan sejak melihat itu, aku jadi tahu, standar untuk dihargai dan diperlakukan dengan baik itu nggak perlu diturunkan. Karena ternyata, yang tenang, konsisten, dan tulus itu memang ada. 

Komentar