Seminggu yang membuahkan hasil

Aku selalu percaya dengan kalimat, 
“yang menolong, akan tertolong.”

Kami, angkatan 23, sejak awal masuk mata kuliah Metodologi Penelitian Kualitatif sudah diajarkan berbagai aspek penelitian, seperti bagaimana membuat rumusan masalah dari fenomena yang ingin diamati. Hal-hal itu beberapa kali juga dijadikan tugas, misalnya membuat kerangka teori, menyusun rumusan masalah, dan lain-lain.

Sejak awal, fenomena yang ingin aku amati adalah minat baca siswa terhadap buku hiburan dan buku akademik. Dari pertemuan pertama sampai sekarang, topik itu tidak berubah. Aku ingin mengembangkannya menjadi proposal penelitian dan, insyaallah, nantinya menjadi skripsi.

Aku sempat berkonsultasi dengan Bu Stefani. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya tidak masalah jika aku mulai mengumpulkan data dari sekarang. Dalam beberapa kali konsultasi, Bu Stefani juga menyarankan agar aku menggunakan kuesioner dengan jawaban terbuka (open answer). Untuk populasinya, aku mengambil satu kelas saja, lalu nanti akan diambil sampel dari sana.

Tempat pengambilan data yang kupilih adalah SMAN 5 Palangka Raya, tempat aku menjalani PLP 1. Sekalian saja, pikirku. Jadi nanti ketika semester 7, jika aku tetap menjalani PLP 2 di sana, aku bisa melanjutkan penelitian ke tahap berikutnya, yaitu mewawancarai siswa yang menjadi sampel tadi.

Hari PLP pun tiba. Sebelum meminta surat izin penelitian dari kampus, aku ingin memastikan terlebih dahulu apakah pihak sekolah yang akan aku teliti bersedia menerima atau tidak. Jadi aku mengonfirmasi kepada mereka terlebih dahulu. Syukurnya, pihak sekolah menyambut dengan baik. Dari situ aku lanjut membuat kuesioner.

Setelah kuesioner selesai dibuat dalam bentuk Google Form, aku meminta surat izin penelitian kepada pihak kampus. Awalnya staf ragu untuk memberikannya dan menyarankanku untuk bertanya terlebih dahulu kepada kaprodi. Aku pun menemui kaprodi dan menjelaskan tujuan serta maksud penelitianku. Ternyata beliau mengizinkan, bahkan merasa senang karena aku sudah memulai dari sekarang. Akhirnya staf dan beberapa dosen membantuku menyusun surat izin tersebut, sekaligus memberikan beberapa masukan.

Setelah surat itu berada di tanganku, keesokan harinya aku langsung mengantarkannya ke sekolah. Di sana aku kembali berkoordinasi dengan pihak sekolah mengenai kuesioner ini. Guru pamongku, Pak Lukman, mengatakan bahwa aku tidak bisa langsung menyebarkan kuesioner begitu saja, apalagi saat itu aku baru dua hari menjalani PLP 1 di SMA 5. Beliau menyarankan agar aku melakukan observasi terlebih dahulu ke beberapa kelas, melihat situasi, baru kemudian masuk ke tahap pengumpulan data. Aku mengikuti saran itu, karena memang masuk akal, pikirku.

Selama satu minggu penuh, kami mahasiswa PLP 1 bolak-balik ke SMA 5 setiap hari, terutama aku. Pagi jam tujuh kami sudah datang untuk mengikuti apel pagi dan kegiatan sekolah lainnya. Jika ada mata kuliah di kampus, kami izin sebentar, lalu setelah selesai kami kembali lagi ke sekolah. Begitu terus setiap hari. Awalnya terasa berat, tetapi setelah dijalani beberapa hari, semuanya terasa lebih ringan.

Kami melakukan observasi ke beberapa kelas, kelas X, XI, dan XII. Dari observasi itu aku menyadari bahwa SMA ini memang dididik untuk melahirkan pemimpin, seperti abdi negara.
Ketika masuk ke kelas XII, mereka sedang belajar tentang karangan argumentasi mengenai cita-cita. Banyak dari mereka menuliskan keinginan untuk menjadi polisi atau abdi negara dan saat ini juga mereka tengah melakukan tes masuk melalui jalur undangan, jalur yang tidak semua sekolah bisa mendapatkannya.

Cara para siswa menyapa juga berbeda. Mereka menyapa dengan tegas, dada dibusungkan, dan kepala sedikit menunduk.
“Selamat pagi, Pak. Selamat pagi, Bu,” kata mereka dengan suara lantang.

Hari Senin kemarin, setelah merasa observasi yang kulakukan sudah cukup, aku bertanya kepada guru pamongku kapan aku bisa mulai membagikan kuesioner kepada siswa. Beliau mengatakan bahwa aku sudah boleh memulainya. Kami pun berdiskusi.
Awalnya aku berencana membagikan kuesioner melalui Google Form. Namun Pak Lukman tidak menyarankan hal itu.
Menurut beliau, ada kemungkinan siswa akan menjawab dengan bantuan AI sehingga jawabannya tidak benar-benar jujur, dan itu bisa menyulitkanku nanti. Beliau menyarankan agar kuesionernya dicetak saja agar siswa menulis jawabannya secara langsung. Akhirnya aku mencetak 40 lembar kuesioner.

Setelah itu beliau mengarahkanku ke kelas yang akan dituju. Pak Lukman bertanya kelas mana yang ingin aku jadikan populasi, tetapi aku meminta saran beliau saja. Beliau menyarankan kelas XI, lalu aku diarahkan ke salah satu guru yang mengajar di kelas tersebut.
Sejujurnya aku sangat gugup. Banyak sekali pikiran liar di kepalaku, bagaimana respon mereka terhadapku? Apakah mereka akan mengerti penjelasanku?
Selasa, 10 Maret 2026, akhirnya aku mulai mengumpulkan data. Kami masuk ke kelas XI-11 bersama Bu Sri. Cara Bu Sri berinteraksi dengan siswa sangat hangat dan membuat suasana kelas terasa nyaman. Beliau memperkenalkan aku dan salah satu mahasiswa angkatan 24 kepada siswa sebagai ibu guru.
Setelah itu, beliau menyerahkan kelasnya kepadaku.

Aku membuka kelas dengan menanyakan kabar mereka, bertanya apakah mereka sudah makan siang dan apakah makanannya enak (mayoritas kristen). Aku juga bertanya apakah mereka lebih suka membaca novel atau justru lebih suka mata pelajaran tertentu. Setelah suasana terasa lebih santai, barulah aku menjelaskan tentang pengisian kuesioner tersebut.

Mereka menyambutnya dengan sangat baik. Aku benar-benar senang. Mereka tidak kesulitan mengisinya, bahkan bertanya jika ada bagian yang tidak mereka pahami. Saat itu aku merasa lega, ternyata tidak seburuk yang ada di kepalaku.

Setelah semuanya selesai, aku mengajak mereka berfoto bersama. Kami juga saling bertukar Instagram. Mereka terlihat sangat antusias. DM Instagramku bahkan langsung ramai karena mereka meminta follow back.

Hari ini menjadi hari yang cukup menyenangkan sekaligus mendebarkan bagiku. Karena itu, sebagai self-reward, aku menghadiahi diriku sendiri es teler sultan dan dimsum goreng mentai Garuma.

Seminggu ini terasa penuh dengan suka dan duka. Ada banyak tangis di dalamnya. Banyak tugas yang terasa membingungkan, seperti tugas fotografi jurnalistik yang benar-benar menguras emosi. Belum lagi drama PLP 1 di kelompok kami, ditambah tugas dari Bu Misna yang jumlahnya sangat banyak tetapi penjelasannya tidak selalu jelas.
Jujur saja, aku bahkan lebih memilih mengerjakan statistik daripada tugas fotografi dan kewirausahaan.

Namun akhirnya, semua rasa lelah itu sedikit terbayar ketika melihat data-data penelitian yang sudah berhasil aku kumpulkan hari ini. Sekarang tinggal bagaimana aku mengolahnya dengan baik.

Komentar