Sesampainya di rumah, Orin langsung masuk ke kamar dan mengabaikan Axel yang sejak tadi menunggunya.
“Bentar ya, Axel. Om panggilkan Orin dulu. Mungkin dia belum lihat kamu.”
Ayah berjalan sempoyongan menaiki tangga. Usianya sudah tidak muda lagi, langkahnya tertatih, rambutnya pun telah memutih.
“Nak, ada Axel di bawah. Dia menunggu dari siang tadi.”
“Iya, Yah. Orin ganti baju dulu,” jawab Orin lirih, suaranya sedikit bergetar.
Tanpa sepengetahuan ayahnya, di balik pintu kamar, Orin menangis terisak. Segala pikiran liar berkecamuk di kepalanya, tak tahu harus diluapkan ke mana. Axel mengajaknya menikah, bukan memaksa, hanya mengajak. Namun, hati Orin tidak sanggup. Sudah lama Axel menunggunya, selalu baik kepada Orin dan keluarganya. Baik dan buruknya Orin pun diterima Axel dengan lapang dada.
Perlahan, Orin berjalan turun. Ia menemui Axel dengan wajah sembab, lalu mengajaknya pergi keluar.
Di atas motor, Axel bertanya tentang hari Orin di sekolah. Apakah murid-muridnya nakal? Apakah PR yang diberikan minggu lalu dikerjakan semua? Apakah kepala sekolah memberinya tugas tambahan lagi?
Namun, alih-alih menjawab, Orin justru kembali menangis.
“Aku nggak bisa, Xel. Kalau aku menikah, siapa yang akan mengurus rumah? Siapa yang membiayai adikku? Ibuku bekerja dari pagi sampai sore, ayahku sudah tua, kakakku tidak bisa diandalkan, dan adikku masih kuliah. Kamu lihat sendiri kondisi keluargaku. Hanya aku yang mereka harapkan.”
Axel menepi. Ia mengajak Orin turun, lalu memeluknya erat, sangat erat.
Komentar
Posting Komentar