Menjadi teman bagi semua orang, tapi tidak pernah jadi favorit bagi siapapun.
Aku, kamu, atau siapa pun itu… mungkin pernah merasa tersisih di suatu ruang.
Punya banyak teman, tapi tidak pernah benar-benar jadi teman favorit siapa pun.
Kita tetap duduk bareng. Tetap ikut tertawa. Tetap nimbrung kalau ada yang cerita. Tapi rasanya seperti selalu setengah langkah di belakang. Bukan tidak diterima, hanya tidak benar-benar menjadi pilihan utama.
Dalam psikologi, kondisi seperti ini sering disebut floater friend effect.
Istilah untuk orang yang bisa berteman dengan siapa saja, tapi tidak benar-benar punya tempat yang tetap di satu lingkaran.
Tanpa sadar sering bilang, “Eh, tadi kalian bahas apa?” pada topik pembahasa.
Dan, berjalan sedikit terbelakang di rombongan waktu jalan.
Kita ikut tertawa saat ada inside joke, padahal sebenarnya tidak paham ceritanya. Kita ramah, mudah menyesuaikan diri, bisa masuk ke berbagai kelompok. Kelihatannya baik-baik saja. Bahkan mungkin dianggap supel dan enak diajak ngobrol.
Tapi saat hari terasa berat, saat lagi capek atau kacau, kita bingung mau hubungi siapa. Tidak ada satu nama yang rasanya pasti untuk di hubungi.
Kadang kita sadar, mereka semua punya “orangnya” masing-masing. Tempat cerita. Tempat pulang. Sementara kita… bisa ke mana saja, tapi tidak pernah benar-benar merasa sampai.
Yang paling capek itu bukan sendirinya.
Tapi pura-pura kalau semuanya biasa saja.
Keluar dari peran ini bukan berarti harus tiba-tiba berubah jadi orang yang paling vokal atau pasang batas besar-besaran. Bisa dimulai dari hal kecil. Mulai memperhatikan siapa yang ingat kita tanpa diingatkan. Siapa yang menghubungi tanpa selalu kita yang duluan. Siapa yang memberi ruang tanpa kita harus membuktikan apa-apa.
Karena waktu dan kehadiran itu terbatas.
Dan kita tidak harus terus memberikannya ke tempat yang bahkan tidak merasa kehilangan saat kita tidak ada.
Komentar
Posting Komentar