Upaya Terakhirku

Aku tidak menaruh harap,
Hanya saja hatiku tergores pahat yang kutahu tak disengaja.

Aku tidak marah, sama sekali tidak.
Barangkali baginya, aku tak memerlukan penjelasan.

Sebab sejak mula, kami bukan apa-apa.
Bukan kekasih, bukan pula persinggahan,
Hanya sesuatu yang tak pernah diberi nama.

Kini, aku nyaris pulih dari segalanya.
Aku tertawa di hadapan manusia,
Menyebut namanya dengan nada ringan, seolah telah lupa.

Namun diam-diam aku memohon pembelaan kepada semesta.
Bukan agar ia kembali,
melainkan agar aku benar-benar mampu melepaskannya.

Inilah upayaku yang terakhir.
Menyelamatkan diriku dari getir yang tak bernama.
Dari luka yang tak pernah kuakui keberadaannya.

Seperti dirinya,
yang kini menjadi samar di antara gema.

Selanjutnya, 
selamat berkelana dan saling melupa.

Komentar