war takjil, mungkin?


Dari awal puasa sampai hari ini, aku belum pernah ke Pasar Ramadan atau beli makanan di luar. Selalu bikin sendiri di rumah. Niatnya sih hemat dan lebih puas aja gitu.

Tapi tadi sore, sekitar jam lima lewat, tiba-tiba pengin banget makan risol. Ya sudah, berangkatlah aku ke penjual risol terdekat.

Pas sampai di warung depan gang, ternyata masih ada tiga orang yang nunggu. Aku tanya ke mbaknya, “Masih ada risolnya, Mbak?”
Katanya masih, sekitar dua puluh pcs semua varian. Ya sudah, aku ikut antre.

Di tempat itu bukan sistem ambil sendiri, tapi mbaknya yang ambilin. Dan posisiku antrean keempat—alias paling belakang.

Waktu semua risolnya sudah matang dan siap dibungkus, aku dengar orang pertama pesan sepuluh. Orang kedua pesan tiga. Berarti sisa tujuh, kan? Dalam hati aku mikir, paling orang di depanku ambil dua atau tiga. Aman lah harusnya.

Eh ternyata… dia ambil semuanya.

Ya ampun. Mau kesel juga nggak bisa, karena memang aku yang datang terakhir. Mau dibilang war takjil juga nggak tahu ya, tapi intinya aku nggak kebagian.

Akhirnya aku pesan lewat Gojek saja.

Tapi ada hikmahnya juga. Di salah satu toko di Gojek, ternyata ada yang jual risol matcha. Dari dulu aku pengin banget coba, tapi belum kesampaian. Ya sudah, sekalian aja. Aku pesan tiga risol matcha, satu mentai, satu cokelat.

First experience makan risol matcha? Enak. Manis, lembut. Cuma matchanya nggak terlalu terasa pahit, lebih dominan manis. Tapi tetap ada hint matchanya kok, dan ada kejunya juga. Lumayan lah buat penutup drama hari ini.



Komentar