Selama ini aku selalu percaya kalau cerita Malin Kundang itu sederhana: anak durhaka, ibu yang tersakiti, lalu kutukan sebagai hukuman. Dari kecil, cerita itu kayak sudah final, gak ada yang perlu dipertanyakan lagi. Tapi setelah aku mulai belajar dan melihat dari sudut pandang lain, aku jadi kepikiran, bener gak sih selama ini kita memahami cerita itu dengan tepat?
Dalam kajian sastra, ada yang namanya Dekontruksi. Sederhananya, teori ini ngajarin kita untuk gak langsung percaya sama satu makna yang sudah dianggap benar. Justru kita diajak untuk membongkar ulang, mempertanyakan, dan melihat dari sudut pandang lain yang mungkin selama ini gak pernah kita perhatiin. Dan menurutku, cerita Malin Kundang ini salah satu contoh yang paling pas untuk dilihat pakai cara ini.
Kalau diingat lagi, dari kecil kita selalu diajarin bahwa Malin Kundang adalah anak durhaka. Dia pergi merantau, sukses, lalu gak mengakui ibunya, dan akhirnya dikutuk jadi batu. Posisi ceritanya jelas banget, Malin salah dan ibunya benar. Tapi setelah aku pikir-pikir, kenapa kita selalu langsung menerima itu tanpa mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi dari sisi Malin?
Dari sudut pandangku, wajar banget kalau Malin Kundang tidak langsung mengakui perempuan yang datang dan mengaku sebagai ibunya. Dia sudah lama merantau, gak tahu kondisi kampung halamannya, bahkan mungkin gak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang mengaku sebagai ibunya di depan banyak orang. Dalam situasi seperti itu, rasa ragu itu manusiawi. Jadi menurutku, di titik itu saja kita sebenarnya sudah tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa dia durhaka.
Kalau dilihat lebih jauh lagi, menurutku gak ada yang benar-benar salah dalam cerita ini. Yang ada justru keadaan dan lingkungan yang membentuk semuanya. Kita gak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan Malin sebelum merantau. Bisa saja dia tumbuh di lingkungan yang tidak sehat, penuh tekanan, atau bahkan kekerasan. Kalau memang begitu, pergi dari rumah justru bisa jadi bentuk menyelamatkan diri, bukan bentuk durhaka.
Selama ini, aku juga merasa kita terlalu sering melihat cerita dari sudut pandang ibu saja. Ibu selalu digambarkan sebagai sosok yang benar, yang tersakiti, yang pantas mendapat keadilan. Tapi bagaimana dengan sudut pandang anak? Bagaimana kalau hubungan mereka sebenarnya tidak seideal yang diceritakan? Bagaimana kalau di dalam rumah itu ada hal-hal yang tidak pernah diceritakan, seperti kekerasan atau tekanan yang membuat anak memilih pergi?
Kalau dipikir dari sisi ini, maka tindakan seorang anak yang pergi dari rumah tidak selalu bisa dianggap salah. Bahkan ketika dia kembali dan merasa asing atau tidak nyaman, itu juga hal yang wajar. Luka dan jarak waktu tidak bisa hilang begitu saja. Ada banyak emosi yang mungkin belum selesai, dan itu bisa memengaruhi bagaimana seseorang bersikap.
Cara pandang seperti ini juga aku temukan dalam film Legenda Kelam Malin Kundang. Di film itu, tokoh Alif tidak digambarkan sebagai sosok yang jahat, tapi sebagai seseorang yang tumbuh dengan luka yang sangat dalam. Masa kecilnya penuh dengan trauma, kemarahan, dan hal-hal yang tidak seharusnya dilihat oleh seorang anak. Semua itu akhirnya membentuk kepribadiannya saat dewasa.
Dari yang aku lihat, trauma masa kecil Alif sangat berpengaruh terhadap sikapnya. Dia jadi pribadi yang tertutup, sulit berkomunikasi, dan emosinya tidak stabil. Bahkan dalam hubungannya dengan istrinya, dia terlihat tidak bisa membuka diri. Semua itu menurutku bukan muncul tiba-tiba, tapi hasil dari masa lalu yang terus menghantuinya.
Yang paling menarik menurutku adalah ketika Alif sampai menciptakan “ibu palsu”. Awalnya mungkin terdengar aneh, tapi kalau dipikir lagi, itu justru masuk akal. Dia tidak hanya ingin melupakan masa lalunya, tapi benar-benar ingin menguburnya. Dia ingin punya kehidupan baru tanpa bayang-bayang luka yang pernah dia alami. Jadi menurutku, tindakan itu bukan sekadar kebohongan, tapi bentuk pelarian dari trauma.
Bagian paling tragis dalam film itu adalah saat Alif kecil melihat ibunya diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Dari situ aku merasa bahwa tindakan Alif yang akhirnya membunuh ibunya bukan bisa dilihat sebagai kejahatan biasa. Itu adalah campuran dari kemarahan, rasa sakit, dan ketidakberdayaan yang sudah menumpuk. Bahkan mungkin itu adalah bentuk cinta yang sudah rusak karena trauma.
Di sisi lain, ibunya juga bukan sosok yang bisa sepenuhnya disalahkan. Dia melakukan hal yang salah, tapi karena keadaan yang memaksa. Dia tidak punya banyak pilihan untuk bertahan hidup. Bahkan dalam kondisi seperti itu, dia tetap memikirkan anaknya. Jadi menurutku, di sini terlihat jelas bahwa baik ibu maupun anak sama-sama korban.
Kalau kata “durhaka” dihapus, aku merasa Malin Kundang atau Alif lebih tepat disebut sebagai korban, atau mungkin penyintas dari kehidupan yang keras. Dia bukan sekadar anak yang menolak ibunya, tapi seseorang yang tidak mampu menghadapi masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lalu soal kutukan, aku juga jadi mikir ulang. Dalam cerita rakyat, kutukan itu dianggap sebagai bentuk keadilan. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang ini, kutukan itu bisa jadi bukan keadilan, tapi luapan emosi. Rasa marah, kecewa, dan sakit hati yang tidak terselesaikan. Bahkan di versi film, kutukan itu berubah menjadi hilang ingatan yang terus berulang, yang menurutku justru lebih menyakitkan.
Di akhir, aku jadi merasa bahwa mungkin selama ini kita memang terlalu cepat menghakimi Malin Kundang. Kita menerima cerita itu begitu saja tanpa mencoba memahami apa yang ada di baliknya. Padahal, kalau dilihat dari sudut pandang yang berbeda, ceritanya jauh lebih kompleks dan manusiawi.
Menurutku, Malin Kundang bukan sekadar anak durhaka. Dia adalah seseorang yang tidak kuat bertahan di kehidupan yang terlalu menyakitkan. Dan mungkin, selama ini yang perlu kita dekonstruksi bukan hanya ceritanya, tapi juga cara kita memahaminya.
Komentar
Posting Komentar