Keadilan itu katanya selalu ada, hanya saja kadang terlambat. Tapi setelah menonton film Keadilan: The Verdict, aku jadi bertanya-tanya benarkah keadilan itu terlambat, atau memang tidak pernah benar-benar datang untuk semua orang?
Kalau dari sudut pandangku, tindakan Raka itu jelas salah. Penyanderaan bukan cara yang benar, apa pun alasannya. Dia melanggar hukum, dan itu tidak bisa dibenarkan begitu saja. Tapi semakin dipikirkan, semakin sulit juga untuk sepenuhnya menyalahkan dia.
Raka itu bukan orang biasa. Dari cara dia menyiapkan semuanya mulai dari pistol, bom, sampai peluru karet (M5) yang tidak sembarang orang bisa dapatkan terlihat kalau dia punya latar belakang lebih dari sekadar petugas keamanan. Menurutku, sangat mungkin dia adalah seorang agen lapangan yang terbiasa menghadapi situasi ekstrem, hanya saja itu tidak pernah dijelaskan secara langsung di film.
Dan justru di situlah letak ironi besarnya.
Seseorang yang terlatih, yang punya kemampuan, yang mungkin pernah menghadapi berbagai situasi berbahaya, tetap tidak bisa berbuat banyak ketika berhadapan dengan sistem hukum yang sudah dimanipulasi.
Dia kehilangan istrinya. Kehilangan anaknya, bahkan sebelum sempat lahir. Dan semua itu terjadi karena orang yang sama sekali tidak mereka kenal, dengan motif yang bahkan terasa tidak masuk akal. Kehilangan seperti itu bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan kata “ikhlas”.
Harusnya, hukum jadi tempat terakhir untuk mencari keadilan. Tempat di mana kebenaran berdiri, tanpa bisa dibeli. Tapi yang ditunjukkan film ini justru sebaliknya. Fakta bisa diputarbalikkan, saksi bisa dibayar, dan pelaku bisa dilindungi oleh kekuasaan.
Di titik itu, kalimat Raka terasa sangat nyata:
"dipersidangkan bukan kebenaran yang benar, tapi yang menang yang akan menjadi kebenaran."
Dan jujur saja, ini terasa sangat dekat dengan realitas.
Kita sering melihat bagaimana hukum bisa tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Ada orang yang mencuri karena terpaksa untuk makan, langsung dihukum. Tapi ada juga yang melakukan kekerasan, bahkan sampai menghilangkan nyawa, justru bisa bebas karena punya uang dan kekuasaan.
Di titik itu, aku mulai paham kenapa Raka memilih jalan yang dia ambil.
Kalau dia tetap diam, kalau dia tetap percaya pada proses yang sudah jelas dimanipulasi, besar kemungkinan istrinya dan anaknya tidak akan pernah mendapatkan keadilan. Pelaku akan bebas, dan semuanya selesai begitu saja.
Tapi di sisi lain, saat dia memilih untuk bertindak sendiri, dia justru ikut melanggar hukum. Dia mencoba melawan sistem yang rusak, tapi dengan cara yang juga salah.
Dan di situlah film ini terasa jujur.
Film ini tidak memaksa kita untuk membenarkan Raka, tapi juga tidak membuat kita bisa dengan mudah menyalahkannya. Kita dipaksa untuk melihat bahwa ada kondisi di mana seseorang tidak lagi punya pilihan yang benar-benar benar.
Meski begitu, aku tetap percaya bahwa jalan seperti Raka bukanlah solusi.
Kalau semua orang memilih untuk mengambil keadilan dengan caranya masing-masing, maka yang terjadi bukan keadilan, tapi kekacauan. Tidak akan ada lagi batas antara benar dan salah.
Mungkin yang bisa kita lakukan sebagai sesama manusia bukan dengan ikut marah dan menghancurkan, tapi dengan tetap menjaga nilai kemanusiaan itu sendiri. Tidak menutup mata terhadap ketidakadilan, berani bersuara, dan tidak ikut menjadi bagian dari sistem yang salah. Sekecil apa pun itu.
Karena pada akhirnya, keadilan bukan hanya tentang hukum. Tapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan satu sama lain sebagai manusia.
Dan mungkin, harapan itu masih ada—selama kita tidak ikut menyerah pada keadaan.
Komentar
Posting Komentar