Suatu hari, seekor burung kecil terbang rendah di atas danau yang tenang. Tanpa sengaja, ujung sayapnya menyentuh permukaan air dan menimbulkan riak kecil. Ia terkejut, mengira ada sesuatu yang mengusiknya, seolah-olah danau itu sedang menyerangnya.
Dengan rasa panik dan kesal, burung itu mulai mengepakkan sayapnya dengan kuat, mencoba melawan. Tapi semakin ia melawan, semakin banyak air yang terciprat ke tubuhnya. Bulunya mulai basah, berat, dan sulit digerakkan.
Anehnya, ia tidak berhenti. Ia terus mematuk air, terus mengepak tanpa arah, terus bereaksi seolah sedang disakiti. Padahal, yang ia hadapi hanyalah riak kecil yang ia ciptakan sendiri.
Dan, tanpa sadar, perlahan ia kelelahan. Sayapnya tak lagi mampu mengangkat tubuhnya. Ia tenggelam dalam sesuatu yang sebenarnya tidak pernah berniat menjatuhkannya.
Sama halnya dengan manusia. Kadang kita terlalu sibuk melawan hal-hal kecil yang menyentuh ego kita. Perkataan orang, sikap yang kita salah artikan, atau luka yang sebenarnya bisa kita lewati. Kita balas dengan emosi, dengan amarah, seolah semuanya adalah serangan besar.
Padahal, semakin kita bereaksi berlebihan, semakin kita tenggelam dalam perasaan itu sendiri. Kita capek, kita lelah, kita hancur… bukan karena masalahnya besar, tapi karena cara kita meresponsnya.
Padahal, kalau saja kita memilih tenang, memilih menjauh, memilih tidak menanggapi semuanya… mungkin kita masih bisa “terbang” seperti biasa.
Karena tidak semua hal harus dilawan. Kadang, yang perlu kita lakukan cuma… melepaskan.
Komentar
Posting Komentar