Perjalanan dari bandara ke hotel biasanya menjadi bagian paling sederhana dalam sebuah liburan. Singkat, praktis, dan jarang meninggalkan kesan. Namun, bagi Choi Soobin, pengalaman tersebut justru berubah menjadi situasi yang tidak terduga saat berkunjung ke Cebu, Filipina.
Setelah menyelesaikan jadwal grupnya di Manila, Soobin memilih beristirahat sejenak di Cebu bersama seorang teman. Sebelum berangkat, ia sempat meminta saran dari Kang Taehyun, rekan satu grupnya yang pernah lebih dulu berlibur ke kota tersebut.
Persiapan dilakukan dengan cukup matang, termasuk memperkirakan biaya transportasi. Berdasarkan aplikasi, perjalanan dari bandara ke hotel seharusnya berada di kisaran 300 Peso.
Namun, situasi di lapangan tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana.
Sesampainya di bandara, seorang sopir taksi menawarkan tarif 500 Peso dengan alasan kenaikan harga bahan bakar. Meski berada di atas estimasi, Soobin menyetujui tawaran tersebut.
Perjalanan awalnya berlangsung normal. Hingga di tengah jalan, sopir tiba-tiba menaikkan tarif menjadi 1.000 Peso tanpa kesepakatan baru.
Situasi ini menimbulkan ketidaknyamanan. Namun, Soobin tetap tenang. Ia mengarahkan kamera vlog-nya dan mengatakan, “Tolong masukkan bagian ini.”
Setibanya di tujuan, sopir tetap meminta 1.000 Peso. Namun, Soobin memilih berpegang pada kesepakatan awal dan hanya membayar 500 Peso sebelum turun dari kendaraan.
Peristiwa ini kemudian diketahui publik setelah vlog “[SOOBIN-LOG] Trip to Cebu” diunggah pada 1 April 2026. Respons yang muncul cukup luas, tidak hanya dari penggemar, tetapi juga masyarakat umum.
Kasus ini turut mendapat perhatian dari Land Transportation Franchising and Regulatory Board (LTFRB) yang melakukan penelusuran terhadap sopir dan operator taksi terkait. Di sisi lain, sejumlah warganet Filipina menyampaikan permintaan maaf karena merasa kejadian tersebut dapat memengaruhi citra pariwisata.
Praktik penetapan tarif sepihak seperti yang dialami Soobin bukanlah hal baru. Sejumlah wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, kerap membagikan pengalaman serupa, terutama saat menggunakan transportasi tanpa argometer. Kondisi ini menimbulkan keresahan, karena tidak semua penumpang memiliki posisi atau keberanian untuk menolak.
Dalam jangka panjang, praktik semacam ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga berpotensi menurunkan kepercayaan wisatawan terhadap layanan transportasi dan pengalaman berwisata secara keseluruhan.
Pada akhirnya, kejadian ini bukan sekadar pengalaman pribadi seorang figur publik. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kesepakatan, sekecil apa pun, tetap perlu dijaga. Baik oleh penyedia jasa maupun pengguna, agar kepercayaan tidak hilang dalam situasi yang seharusnya sederhana.
Komentar
Posting Komentar