Namaku Kanaya.
Sejak kecil, orang-orang di sekitarku selalu bilang aku adalah anak yang keras kepala. Jika sudah menginginkan sesuatu, aku akan mengejarnya sampai benar-benar mendapatkannya—atau sampai semesta sendiri yang memaksaku berhenti.
Barangkali sifat itu lahir karena sejak kecil aku terlalu sering berhadapan dengan hal-hal yang bahkan tidak bisa kupilih.
Mama pernah bercerita bahwa saat kecil aku sering mengalami step—atau dalam bahasa medisnya, febrile seizure. Hampir setiap hari, katanya. Tubuh kecilku gemetar hebat, mataku memutih, dan rumah kami berkali-kali berubah menjadi tempat panik hanya karena demam yang bagi anak lain mungkin biasa saja.
Belum cukup sampai di situ, dokter juga sempat menduga tubuhku memiliki gangguan autoimun. Aku terlalu sering sakit untuk ukuran anak kecil. Terlalu rapuh. Terlalu sering keluar masuk rumah sakit sampai seorang dokter pernah berkata pada ibuku bahwa anak sekecil aku mungkin tidak akan tumbuh panjang umur.
Tapi rupanya, hidup selalu punya cara untuk membungkam prediksi manusia.
Karena lihatlah aku sekarang—
masih hidup,
masih sehat,
dan tumbuh menjadi seseorang yang terlalu keras kepala untuk mati muda.
Mungkin justru karena terlalu sering sakit itulah aku mulai akrab dengan dunia rumah sakit.
Dan mungkin juga karena itu, semesta mempertemukanku dengan seseorang yang diam-diam membentuk mimpiku.
Saat aku duduk di bangku sekolah dasar, setiap satu bulan sekali sekolahku selalu kedatangan tim kesehatan dari rumah sakit kota. Mereka datang untuk pemeriksaan rutin, penyuluhan kesehatan, atau sekadar memberi edukasi sederhana pada anak-anak yang bahkan masih lebih sibuk memikirkan jam istirahat daripada masa depan.
Di antara semua orang yang datang, ada satu yang selalu kutunggu.
Seorang dokter perempuan yang sangat cantik.
Ia memiliki wajah yang teduh, tutur kata yang lembut, dan senyum yang entah bagaimana selalu berhasil membuat ruangan terasa lebih hangat. Bagiku yang masih kecil, ia tampak seperti tokoh dari dunia lain—terlalu anggun untuk menjadi nyata.
Setiap kali datang, ia selalu bercerita dengan mata berbinar tentang profesinya.
Katanya, menjadi dokter itu menyenangkan.
Karena dokter bisa menyembuhkan orang sakit.
Karena dokter bisa membantu orang hidup lebih lama.
Karena dokter bisa menjadi alasan seseorang pulang ke rumah dalam keadaan selamat.
Lalu sambil tertawa kecil, ia pernah berkata,
“Dokter itu tangan kanan Tuhan untuk menolong manusia.”
Aku tidak tahu apakah kalimat itu sepenuhnya benar secara teologi.
Tapi bagi anak kecil sepertiku waktu itu,
kalimat itu terdengar seperti hal paling indah yang pernah kudengar.
Dan sejak hari itu,
aku tahu dengan pasti apa yang ingin kulakukan saat dewasa nanti.
Aku ingin menjadi dokter.
Bukan cita-cita musiman seperti anak-anak lain yang minggu ini ingin jadi penyanyi lalu minggu depannya ingin jadi astronot.
Aku benar-benar ingin.
Aku ingin memakai jas putih itu.
Aku ingin menggantungkan stetoskop di leherku.
Aku ingin menjadi orang yang berkata pada seseorang bahwa orang yang mereka cintai akan baik-baik saja.
Karena mungkin dulu,
ada dokter yang melakukan hal yang sama untuk ibuku.
Sejak SMP, hidupku nyaris hanya berisi dua hal: belajar dan ambisi.
Aku mengambil hampir semua kegiatan sekolah yang bisa kuikuti. Organisasi, lomba, kepanitiaan, akademik—semuanya. Bukan karena aku tidak tahu lelah, tapi karena aku percaya jika aku ingin sampai ke tempat besar, maka usahaku harus lebih besar dari orang lain.
Dan aku pandai.
Setidaknya begitu kata orang-orang.
Namaku cukup sering disebut guru di kelas.
Nilai-nilaiku jarang mengecewakan.
Orang-orang terbiasa melihatku menang.
Lama-lama, bukan hanya aku yang percaya aku akan menjadi dokter.
Semua orang percaya.
Dan mungkin itu kesalahanku yang pertama—
membiarkan terlalu banyak orang ikut percaya pada mimpiku.
Sebab ketika mimpi itu akhirnya runtuh,
yang hancur bukan hanya aku.
Tapi itu cerita nanti.
Karena sebelum hidup mengajariku tentang kegagalan,
ia lebih dulu mempertemukanku dengan seseorang
yang akan mengubah seluruh arah hidupku.
Aku bertemu dengannya
saat SMA.
Komentar
Posting Komentar