Bagian 2

Masa SMP berlalu dengan cara yang nyaris tidak sempat kusadari.

Tiga tahun yang katanya akan menjadi masa paling labil bagi seorang remaja justru lewat begitu cepat bagiku—secepat satu jam pelajaran yang menarik. Barangkali karena aku terlalu sibuk untuk benar-benar menghitung waktu. Hampir semua kegiatan sekolah kuborong. Organisasi, kepanitiaan, lomba, kegiatan tambahan—apa pun yang bisa kutambahkan ke daftar pencapaianku, akan kuambil tanpa banyak pikir.

Aku selalu percaya bahwa orang yang ingin mencapai mimpi besar tidak punya hak untuk hidup setengah-setengah.

Jadi selama teman-teman sebayaku mulai sibuk membicarakan siapa yang mereka sukai, siapa yang diam-diam memperhatikan siapa, atau pasangan mana yang sedang jadi bahan gosip satu sekolah, aku justru sibuk mengejar hal-hal lain yang menurutku jauh lebih penting.

Tidak ada kata cinta dalam kamus hidupku saat itu.

Bukan karena aku merasa terlalu baik untuk jatuh cinta, melainkan karena aku memang tidak pernah diberi banyak ruang untuk memikirkan hal semacam itu.

Aku tumbuh di keluarga yang cukup protektif. Bukan tipe orang tua yang melarangku bernapas, tentu saja, tapi cukup protektif untuk membuatku selalu berpikir dua kali sebelum terlalu dekat dengan laki-laki. Lingkaran pertemananku hampir seluruhnya perempuan, dan jujur saja, saat itu aku tidak merasa ada yang kurang dari hidupku.

Sampai akhirnya masa SMP selesai.

Atau setidaknya, seharusnya selesai dengan indah.

Karena seperti jutaan anak lain di seluruh dunia, masa perpisahanku dicuri oleh sesuatu yang bahkan tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Pandemi.

Saat virus itu mulai menyebar dan angka kasus melonjak, sekolah-sekolah ditutup. Pemerintah mengimbau semua orang untuk tetap di rumah. Hari-hari terakhirku sebagai siswi SMP berakhir tanpa upacara perpisahan, tanpa tangis haru di aula sekolah, tanpa study tour, tanpa seragam yang dicoret-coret teman sekelas seperti tradisi yang selalu kulihat dilakukan angkatan-angkatan sebelumnya.

Begitu saja.

Selesai.

Tiga tahun berlalu tanpa penutup yang layak.

Yang tersisa hanya layar ponsel, tugas daring, dan pesan berantai tentang vaksinasi.

Rasanya hambar.

Aku sempat berpikir bahwa setidaknya masa SMA akan menebus semuanya.

Bahwa aku akan mendapat awal yang lebih baik di tempat baru.

Bahwa masa putih abu-abu yang selama ini digembar-gemborkan orang sebagai masa paling indah dalam hidup akan datang sesuai ekspektasiku—penuh teman baru, cerita baru, organisasi baru, dan kehidupan yang jauh lebih seru.

Ternyata aku salah lagi.

Hari pertama SMA datang tanpa gegap gempita.

Tidak ada ospek.

Tidak ada kakak kelas galak yang pura-pura menakutkan.

Tidak ada demo ekstrakurikuler yang biasanya ramai dibicarakan.

Tidak ada hiruk-pikuk lorong sekolah yang dipenuhi siswa baru kebingungan mencari kelas.

Yang ada hanya penyuluhan kesehatan, pembagian informasi secara terbatas, dan berbagai aturan baru yang terasa lebih seperti prosedur rumah sakit daripada tata tertib sekolah.

Bahkan salah satu syarat masuk sekolah saat itu adalah kartu vaksin.

Sesuatu yang terdengar begitu absurd jika dibandingkan dengan cerita-cerita masa SMA dari generasi sebelumnya.

Meski begitu, aku berhasil masuk ke sekolah yang kuinginkan.

Dan seperti biasa, aku ditempatkan di kelas unggulan—kelas pertama.

Prestasi akademikku cukup untuk membawaku ke sana.

Semestinya aku bangga.

Semestinya aku senang.

Tapi sulit merasa antusias pada sesuatu yang bahkan belum sempat benar-benar kurasakan.

Semester pertama SMA kuhabiskan hampir sepenuhnya dari rumah.

Belajar melalui layar. Mendengarkan guru berbicara lewat mikrofon yang kadang putus-putus. Mengetik jawaban di Google Classroom. Menyimak wajah-wajah kecil dalam kotak Zoom tanpa benar-benar mengenal siapa mereka.

Grup kelasku berisi beberapa teman SMP yang masih kukenal.

Sisanya orang asing.

Nama-nama tanpa wajah.
Wajah-wajah tanpa cerita.

Aku mengenal mereka hanya sebatas foto profil dan cara mereka mengetik di grup kelas.

Dan itu terasa membosankan.

Sangat membosankan.

Jika ini yang disebut orang sebagai awal masa SMA, maka sungguh mereka telah dibohongi bertahun-tahun.

Hari-hariku selama semester pertama terasa seperti rutinitas tanpa warna. Bangun tidur, membuka laptop, belajar, mengerjakan tugas, lalu tidur lagi. Begitu terus berulang sampai bahkan hari Senin dan Sabtu terasa tidak ada bedanya.

Tidak ada kenangan.

Tidak ada momen.

Tidak ada sesuatu yang pantas disebut masa muda.

Semester kedua akhirnya membawa sedikit perubahan.

Sekolah mulai memberlakukan pembelajaran tatap muka terbatas.

Untuk pertama kalinya, setelah berbulan-bulan hanya mengenal sekolahku lewat layar ponsel dan foto-foto brosur, aku benar-benar menginjakkan kaki di sana sebagai siswi.

Meski tetap tidak sepenuhnya seperti yang kuharapkan.

Karena kami belum bisa sekolah normal.

Setiap kelas dibagi menjadi dua rombongan belajar—sesi pagi dan sesi siang—untuk membatasi jumlah siswa dalam satu ruangan.

Dan seperti nasib yang memang suka bercanda padaku,

aku mendapat sesi siang.

Jam belajarku lebih singkat. Sekolah hanya sampai sekitar pukul sebelas siang. Semua orang harus memakai masker sepanjang waktu. Tidak boleh berkerumun. Tidak boleh membuka masker sembarangan. Tidak boleh ke kantin. Tidak boleh duduk terlalu dekat. Tidak boleh terlalu lama di sekolah.

Rasanya seperti sekolah di dunia yang setengah hidup.

Tetap lebih baik daripada belajar dari rumah, tentu saja.

Tapi tetap saja terasa aneh.

Setidaknya, untuk pertama kali aku akhirnya bisa benar-benar bertemu teman-teman sekelasku.

Meski “bertemu” mungkin terlalu mewah untuk menggambarkan keadaan saat itu.

Bagaimana bisa mengenal seseorang dengan baik jika setengah wajah mereka tertutup masker dan separuh kelas bahkan tidak pernah kau lihat?

Aku bahkan tidak pernah bertemu teman-teman dari rombongan pagi.

Sama sekali.

Mereka terasa seperti siswa dari dimensi lain yang kebetulan memiliki kelas yang sama denganku.

Lucunya lagi, dari seluruh anak di rombongan belajarku, hanya dua orang yang benar-benar kukenal sebelumnya.

Dua.

Sisanya tetap orang asing.

Dan di antara sekian banyak wajah asing itu, aku sama sekali tidak tahu bahwa suatu hari nanti, salah satu dari mereka akan menjadi alasan mengapa aku belajar bahwa masa SMA benar-benar bisa mengubah hidup seseorang.

Saat itu, aku hanya menganggap semuanya biasa saja.

Aku datang ke sekolah seperti biasa. Duduk di bangku kelasku. Mendengarkan guru mengajar. Pulang. Mengulang hal yang sama keesokan harinya.

Tidak ada firasat.
Tidak ada pertanda.
Tidak ada musik dramatis seperti di film-film.

Hidupku masih terasa sangat normal.

Sampai suatu hari, karena satu kejadian kecil yang sepele—kejadian yang saat itu bahkan tidak cukup penting untuk kuanggap sebagai awal dari apa pun—

aku mulai berbicara dengannya.

Dan tanpa kusadari,

hidupku perlahan berubah sejak hari itu.

Komentar