Kelas sepuluh berlalu tanpa sesuatu yang cukup berarti untuk dikenang.
Tidak ada kisah besar. Tidak ada persahabatan yang terasa luar biasa. Tidak ada cinta pertama seperti yang sering diceritakan orang-orang saat membahas masa SMA mereka.
Jika harus jujur, tahun pertamaku di bangku SMA terasa seperti masa transisi yang lewat begitu saja—setengah nyata, setengah hilang ditelan pandemi. Rasanya seperti hidup dalam jeda panjang yang tak pernah benar-benar dimulai. Aku hadir, belajar, naik kelas, tetapi tidak benar-benar merasa menjalani apa pun.
Dan mungkin memang harus seperti itu.
Karena rupanya, hidup sengaja menahan bagian terbaik sekaligus paling menyakitkan dari masa remajaku untuk datang sedikit lebih lambat.
Semua benar-benar dimulai saat aku naik ke kelas sebelas.
Pandemi perlahan mereda. Sekolah kembali aktif hampir sepenuhnya. Masker masih ada, beberapa aturan masih diterapkan, tetapi untuk pertama kalinya suasana sekolah terasa hidup seperti yang selama ini hanya kudengar dari cerita orang lain.
Lorong-lorong kembali ramai.
Kantin mulai dipenuhi siswa.
Suara tawa dan teriakan kembali terdengar di sela pergantian jam pelajaran.
Ekskul mulai berjalan normal.
Organisasi mulai aktif lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk SMA, aku merasa benar-benar menjadi anak SMA.
Kelas baru.
Wajah-wajah baru.
Dinamika baru.
Hari pertama masuk kelas sebelas menjadi momen yang entah kenapa membuatku sangat bersemangat. Barangkali karena setelah sekian lama belajar dari balik layar, akhirnya aku bisa benar-benar berdiri di ruangan penuh orang baru tanpa ada batas kamera dan koneksi internet buruk.
Saat sesi perkenalan dimulai, jantungku justru berdebar seperti akan tampil di panggung.
Lucu, memang.
Aku selalu seperti itu—terlihat percaya diri di luar, padahal aslinya gugup setengah mati.
Satu per satu murid maju ke depan kelas memperkenalkan diri dengan cara biasa. Nama, asal SMP, mungkin sedikit hobi. Semua terdengar datar dan formal seperti perkenalan yang dipaksakan.
Lalu giliranku dipanggil.
Aku berdiri, melangkah ke depan kelas tanpa masker—karena saat itu aturan sudah mulai longgar—dengan rambut ponytail tinggi yang sengaja kubuat lebih rapi pagi itu. Aku menarik napas, lalu memperkenalkan diri dengan gaya yang saat itu menurutku paling keren di muka bumi.
Sebuah jiko ala member JKT48.
Ya, aku memang sedang tergila-gila pada mereka waktu itu.
Dengan semangat yang terlalu besar untuk ukuran perkenalan hari pertama, aku berkata lantang,
“Secantik jingga, sehangat senja—aku Kanaya!”
Satu kelas hening selama satu detik.
Lalu pecah oleh gelak tawa.
Aku bisa melihat beberapa orang menepuk meja, beberapa menatapku seperti baru saja menyaksikan sesuatu yang absurd, dan beberapa lain tertawa terang-terangan tanpa berusaha menyembunyikannya.
Jika ada kesan pertama yang berhasil kuberikan hari itu, maka kemungkinan besar adalah: perempuan ini aneh sekali.
Padahal kenyataannya?
Aku hanya sedang berusaha menutupi rasa gugupku.
Karena sesungguhnya, di balik semua energi berlebihan itu, aku tetap seorang introvert yang hanya pandai pura-pura percaya diri.
Aku kembali ke kursiku dengan wajah panas menahan malu, masih mendengar sisa tawa dari teman-teman sekelas.
Lalu nama berikutnya dipanggil.
“Kenneth Marlo.”
Entah mengapa, saat nama itu disebut, beberapa anak laki-laki di kelas langsung bersorak.
Tapi bukan sorakan penuh semangat.
Lebih terdengar seperti ejekan yang dibungkus candaan.
Lelaki yang dipanggil itu berdiri dari bangkunya—yang kebetulan hanya berjarak dua kursi dariku karena kami sama-sama duduk di barisan depan.
Ia maju dengan langkah tenang, wajah datar, tanpa menunjukkan ekspresi terganggu sedikit pun.
“Namaku Kenneth. Panggil saja Ken.”
Hanya itu.
Tidak ada candaan.
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada usaha untuk menarik perhatian.
Setelah itu ia kembali ke tempat duduknya seperti baru saja menyelesaikan kewajiban administratif.
Aku memperhatikannya sekilas.
Kesan pertamaku padanya sederhana: Cupu.
Sangat pendiam.
Sangat kaku.
Sangat… biasa.
Ia bukan tipe laki-laki yang akan membuat perempuan menoleh dua kali. Tidak punya aura mencolok. Tidak tampan dengan cara yang langsung menarik perhatian. Tidak karismatik. Tidak ramai. Tidak lucu.
Hanya seorang anak laki-laki dengan seragam yang terlalu rapi, rambut yang terlalu patuh aturan, dan wajah yang selalu terlihat seperti sedang berpikir terlalu keras.
Di kelas, terlihat jelas bahwa ia hanya dekat dengan satu orang—Sule, yang ternyata singkatan dari Sultan Lengga.
Dan jujur saja?
Saat itu aku sama sekali tidak tertarik mengenalnya.
Aku bahkan tidak berniat berteman dengan laki-laki mana pun.
Duniaku sudah cukup penuh dengan lingkaran pertemananku sendiri.
Teman-teman yang sudah kukenal sejak lama, sebagian bahkan sejak SD dan SMP. Orang-orang yang tumbuh bersamaku, yang tahu sisi memalukanku, yang tahu bagaimana aku tertawa saat terlalu lelah, dan yang tidak perlu kujelaskan siapa diriku karena mereka sudah tahu.
Ada Erna yang sekelas denganku di XI-1.
Ada Alni di XI-2.
Rani dan Jena di XI-3.
Mereka adalah rumah kecilku di sekolah itu.
Hampir setiap hari, aku dan Erna selalu punya alasan untuk keluar kelas. Kadang untuk ke toilet, kadang pura-pura mengantar berkas, kadang sekadar bosan dan ingin mengobrol dengan teman-teman di kelas lain.
Begitulah kami sampai di salah satu siang yang biasa, berkumpul di depan kelas XI-3 sambil berbagi gosip tak penting seperti remaja pada umumnya.
Lalu, entah bagaimana, topik pembicaraan kami beralih pada satu nama yang bahkan belum cukup menarik bagiku untuk diingat.
“Kamu tahu Kenneth?” tanya Rani tiba-tiba.
“Iya, tahu,” jawabku sambil menyeruput minum.
“Dia sekelas sama kami waktu SMP,” katanya.
Aku menoleh sedikit. “Oh ya? Kok aku jarang lihat dia?”
“Dia emang pendiam banget,” timpal Jena. “Pendiam yang… banget. Dijailin nggak pernah bales. Disuruh-suruh anak-anak juga manut aja.”
“Ih, kok bisa ada orang kayak gitu?” kataku spontan.
Rani tertawa. “Makanya. Dia tuh kayak NPC.”
Aku ikut tertawa.
“Kamu nggak pernah cerita, Er?” tanyaku pada Erna.
Erna mengangkat bahu. “Ya kamu nggak pernah nanya.”
Lalu Alni menimpali, “Dia itu keponakan Bu Niren, tahu.”
“Bu Niren guru Bahasa Inggris?” tanya Rani.
“Iya.”
“Jadi anak guru juga dong? Soalnya kata Bu Niren semua saudara dia guru.”
“Iya kayaknya.”
Aku hanya mengangguk-angguk tanpa benar-benar peduli. Informasi tentang Kenneth saat itu masuk ke kepalaku hanya sebagai trivia tak penting. Hal-hal kecil yang mungkin akan kulupakan beberapa menit kemudian.
Dan memang seharusnya begitu.
Tapi hidup rupanya suka bekerja dengan cara yang ironis.
Karena tidak lama setelah kami membicarakannya, orang yang sedang jadi topik pembahasan itu tiba-tiba muncul tepat di hadapan kami.
Kenneth.
Ia datang dengan langkah tenang, wajah datar seperti biasa, tanpa sedikit pun ekspresi canggung meski mungkin sadar kami baru saja membicarakannya.
Tanpa basa-basi, ia menunjuk ke arahku lalu berkata pendek,
“Ni, Bang.”
Lalu pergi.
Aku mengerjap.
“Hah?”
Belum sempat aku mencerna maksud kalimat aneh itu, seseorang muncul dari belakang Kenneth.
Dan saat itulah aku menyadari bahwa Kenneth rupanya bukan datang untuk mengajakku bicara.
Ia hanya… dipakai sebagai perantara.
Lelaki di belakangnya tersenyum.
“Kanaya, kan?”
Aku langsung mengenalinya.
“Kak Bumi?”
Ia mengangguk kecil.
Bumi adalah salah satu kakak kelas yang cukup kukenal—bukan karena ia tipe kakak kelas populer yang dielu-elukan satu sekolah seperti di novel-novel remaja, tapi karena aku pernah melihatnya tampil bersama band sekolah di sebuah acara luar sekolah. Kebetulan sepupuku mengenalnya, lalu dari situ kami sempat berkenalan dan bertukar nomor WhatsApp.
Sedikit klise, memang.
Teman-temanku langsung ribut.
Siku-siku jahil menghantam lenganku.
Tatapan menggoda datang dari segala arah.
Aku mengabaikan semuanya sebisa mungkin.
Bumi tersenyum santai, lalu bertanya, “Pulang nanti, mau nggak bareng aku?”
Suasana langsung meledak.
“OHHHHH!”
“WOOO!”
“CIE KANAYA!”
Aku nyaris ingin mengubur diri hidup-hidup saat itu juga.
Bumi tertawa kecil melihat reaksiku yang panik.
“Kalau nggak mau juga nggak apa-apa,” katanya santai.
Aku menatap teman-temanku yang sudah nyengir seperti penonton acara gosip.
Lalu menatap Bumi lagi.
Dan bodohnya, mungkin karena gengsi, mungkin karena malu menolak di depan banyak orang, atau mungkin karena ada bagian kecil dari diriku yang penasaran seperti apa rasanya mulai dekat dengan laki-laki—
aku mengangguk.
“Boleh, Kak.”
Sorakan kedua jauh lebih keras dari sebelumnya.
Dan dari semua orang yang ada di sekitar sana, entah kenapa mataku sempat menangkap Kenneth berdiri tak jauh dari situ.
Diam.
Wajahnya tetap datar seperti biasa.
Seolah semua keributan itu sama sekali tidak menarik baginya.
Aku tidak tahu mengapa aku memperhatikannya saat itu.
Mungkin karena dari semua orang, hanya dia yang tampak tidak peduli.
Mungkin juga karena tanpa kusadari,
hari itu adalah awal dari banyak hal.
Bukan hanya tentang Bumi.
Bukan hanya tentang Kenneth.
Tapi tentang bagaimana hidupku perlahan mulai bergerak menuju arah yang tak pernah benar-benar bisa kukendalikan.
~~~~~
Ternyata dekat dengan seorang laki-laki—atau lebih tepatnya, mulai didekati laki-laki—tidak seburuk yang selama ini kubayangkan.
Setidaknya, itulah yang kupikirkan pada awal kedekatanku dengan Kak Bumi.
Tidak ada hal luar biasa yang terjadi di antara kami. Tidak ada adegan romantis seperti di novel remaja yang sering kubaca diam-diam tengah malam. Tidak ada momen berdebar yang membuat dunia terasa melambat.
Ia hanya sekali mengantarku pulang.
Setelah itu, sebagian besar kedekatan kami terjadi lewat layar ponsel.
Chat WhatsApp.
Balasan story.
Obrolan receh larut malam.
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti sudah makan atau belum, sedang apa, tugas banyak tidak, sampai keluhan-keluhan kecil tentang sekolah.
Dari cara ia berbicara, aku tahu ia menaruh ketertarikan padaku.
Itu terlihat jelas.
Ia cukup sering mengajakku pergi ke suatu tempat—nonton film, makan bakso, mencoba kafe baru, menonton bandnya latihan—tetapi entah kenapa semua ajakan itu selalu berakhir hanya sebagai wacana. Selalu berhenti di tahap “nanti kita jadi ya” tanpa pernah benar-benar terjadi.
Aneh, memang.
Namun karena itu pengalaman pertamaku didekati laki-laki, aku tidak terlalu memikirkannya. Bagiku, semuanya tetap terasa baru. Tetap terasa menyenangkan.
Sampai minggu kedua kedekatan kami.
Hari itu Alni menghampiriku dengan wajah yang aneh. Seperti seseorang yang menyimpan kabar buruk tapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya.
Awalnya ia bilang ingin bicara berdua.
Namun tentu saja, dalam lingkaran pertemanan kami, tidak ada yang namanya rahasia jika satu orang mulai terlihat serius.
“Apasih, Al, ngomong aja sih,” protes Jena.
“Iya, emangnya kita bakal bocorin ke satu negara?” timpal Erna.
Aku menatap Alni. “Apa, Al?”
Ia tampak ragu.
“Janji jangan sedih ya, Nay.”
“Eh apasih anjai, bikin tegang banget,” kata Erna.
Alni menarik napas panjang. “Kalian tahu kan aku masuk les bahasa Inggris?”
“Iya, terus?” jawab kami hampir bersamaan.
“Di sana aku ketemu Kak Dewi… teman sekelasnya Kak Bumi.”
Aku mulai merasa tidak enak.
“Terus?” tanyaku pelan.
“Kemarin kami ngobrol-ngobrol, terus Kak Dewi nyeletuk… katanya, ‘Bener ya Bumi lagi deket sama Kanaya anak XI-1?’”
Aku langsung mengernyit.
Ada sesuatu pada kalimat itu yang membuatku waspada.
“Terus aku jawab, kayaknya iya, Kak…” lanjut Alni, “dan dia bilang… sebenarnya Kak Bumi itu pacaran sama Kak Levi. Anak kelas XII-7. Vokalis band mereka.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
“Bumi pacaran sama Dewi?” tanya Rani salah tangkap.
“Bukan, ih! Cerna dulu!” kesal Alni.
“Kak Levi yang rambut pendek?” tanyaku refleks.
Karena saat aku pernah melihat mereka tampil di acara luar sekolah, vokalis mereka memang seorang perempuan berambut pendek.
“Kak Levi pentolan sekolah itu?” Jena membelalak.
“Levi rambutnya panjang, Nay,” koreksi Erna.
Aku menggeleng pelan. “Aku nggak kenal Kak Levi. Aku nggak tahu dia punya pacar.”
Alni buru-buru menambahkan, “Nay, jujur aku bukan mau bikin kamu resah. Apalagi ini cowok pertama yang deket sama kamu. Aku cuma nyampein cerita yang aku dengar dari Kak Dewi.”
“Nanti kita cari tahu dulu,” kata Rani menenangkan.
Tapi sayangnya, setelah mendengar itu, pikiranku telanjur kacau.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar dipusingkan oleh urusan hati.
Sepanjang pelajaran di kelas, aku tidak fokus.
Biasanya kalau ada kuis berhadiah, aku akan jadi orang pertama yang antusias mengangkat tangan.
Hari itu aku diam saja.
Yang berputar di kepalaku hanya satu:
Kalau itu benar… berarti aku apa?
Orang ketiga?
Perempuan selingan?
Atau cuma bahan main-main?
Bel pulang berbunyi, tapi kepalaku masih riuh oleh pertanyaan yang tidak bisa kujawab.
Saat sedang membereskan meja, seseorang berhenti di samping bangkuku.
Kenneth.
Wajahnya datar seperti biasa.
“Bang Bumi bilang dia minta aku pulang bareng kamu.”
Hanya itu.
Lalu ia berbalik dan berjalan keluar kelas begitu saja.
Aku menatap punggungnya dengan kesal.
“Dia siapanya Bumi sih? Kok urusan Bumi ke kamu terus?” gumam Erna.
Aku mengangkat bahu malas, lalu berjalan menyusul Kenneth.
“Nggak usah. Aku pulang sama Erna,” kataku cepat sambil menarik tangan sahabatku.
Erna langsung menepis. “Yah, Nay. Aku dijemput ayahku. Motorku mogok.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Lah anjir, aku gimana dong?”
“Ya sama Ken aja.”
“Gak mau anjir.”
“Lah terus?”
“Yaudah, aku pikir sambil jalan.”
Karena aturan sekolah saat itu melarang membawa ponsel, aku tidak bisa menghubungi rumah.
Biasanya Papa yang menjemputku.
Tapi karena malam sebelumnya Kak Bumi bilang akan mengantarku pulang, aku sudah memberi tahu Papa bahwa hari ini aku pulang bersama teman.
Dan sekarang, teman yang dimaksud bahkan tidak muncul.
Aku berjalan cepat keluar gerbang sekolah.
Langkah kaki lain terdengar di belakangku.
Tidak perlu menoleh pun aku tahu itu Kenneth.
“Kamu bisa berhenti ngikutin aku nggak?” bentakku tanpa menoleh.
“Kita pulang bareng, Nay,” jawabnya tenang.
Nada suaranya lembut. Selalu begitu. Hampir seperti ia tidak tahu cara berbicara dengan emosi.
“Aku nggak mau!”
“Hari sudah sore. Sebentar lagi hujan.”
“Kataku nggak mau ya nggak mau! Jangan maksa dong!”
Ia tetap berjalan di belakangku.
Dan entah karena emosi, malu, bingung, atau semuanya sekaligus, mulutku melontarkan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan.
“Kamu ini apa sih? Mau aja disuruh-suruh Lingga, disuruh-suruh Bumi. Babu-nya mereka, hah?”
Kalimat itu keluar tajam.
Terlalu tajam.
Kenneth berhenti melangkah.
Aku sempat menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat sesuatu berubah di wajahnya.
Bukan marah.
Bukan kesal.
Tapi sesuatu yang jauh lebih membuatku tidak nyaman—terluka. Nampaknya ia terluka mendengar ucapanku barusan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan pergi.
Dan mendadak langkahku terasa lebih ringan.
Setidaknya selama beberapa menit pertama.
Rumahku berjarak hampir lima kilometer dari sekolah.
Awalnya aku masih berjalan dengan penuh gengsi, meyakinkan diri bahwa aku tidak butuh siapa-siapa.
Bahwa aku bisa pulang sendiri.
Bahwa aku benar.
Bahwa Kenneth memang terlalu ikut campur.
Lalu langit berubah gelap.
Angin berembus kencang.
Dan sebelum aku sempat menemukan tempat berteduh—hujan turun.
Deras.
Sangat deras.
“Anjir!” umpatan itu keluar begitu saja saat aku mulai setengah berlari di trotoar.
Aku berharap bisa menemukan minimarket atau warung terdekat.
Tapi jalanan di depanku terlalu sepi.
Terlalu kosong.
Terlalu sial.
Aku terus berlari sampai kakiku terpeleset di jalan yang licin.
Tubuhku jatuh keras ke aspal.
Lututku menghantam tanah.
Telapak tanganku ikut lecet.
Sepatu sebelah kiriku robek di bagian depan.
Untuk beberapa detik aku hanya diam di sana, terduduk di pinggir jalan dengan tubuh basah kuyup, napas memburu, lutut perih, dan air hujan bercampur air mata di wajahku.
Lalu aku menangis.
Bukan hanya karena sakit.
Tapi karena rasanya hari itu begitu jahat.
Begitu memalukan.
Begitu menyebalkan.
Begitu sial.
Orang-orang lewat dengan motor dan mobil mereka, tetapi tak ada satu pun yang berhenti.
Tak ada yang bertanya apakah aku baik-baik saja.
Tak ada yang peduli.
Dan saat aku mulai merasa benar-benar sendirian—sepasang sepatu berhenti di hadapanku.
Sebuah payung terbuka di atas kepalaku.
“Yuk,” suara itu berkata pelan, “malu diliatin orang. Kamu bukan gembel.”
Aku mendongak.
Kenneth.
Rambut depannya sedikit basah, seragamnya terkena tempias hujan, wajahnya tetap setenang biasanya—seolah beberapa menit lalu aku tidak baru saja menyakitinya.
Melihatnya, entah kenapa tangisku justru makin pecah.
Karena orang yang datang bukan orang yang kuharapkan.
Bukan Kak Bumi.
Bukan orang yang katanya sedang mendekatiku.
Melainkan Kenneth—lelaki pendiam yang bahkan tadi baru saja kubentak habis-habisan.
Ia tidak berkata apa-apa lagi.
Hanya mengulurkan tangan.
Aku menatap tangannya beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya.
Tangannya hangat.
Ia membantuku berdiri, lalu tanpa banyak bicara menuntunku ke sebuah warung kecil di pinggir jalan.
Kami berteduh di sana.
Aku masih sesenggukan pelan sambil memegangi lututku yang berdarah.
Kenneth jongkok di depanku, menatap luka itu.
“Kamu bawa tisu?” tanyanya.
Aku menggeleng.
Ia menghela napas kecil, lalu membeli air mineral dan tisu dari warung tanpa banyak bicara.
Setelah itu ia kembali, membuka bungkus tisu, membasahinya sedikit, lalu menyerahkannya padaku.
“Bersihin dulu.”
Aku menatapnya.
“Ken…”
“Hm?”
“Maaf.”
Ia diam.
Aku menggigit bibir. “Soal tadi.”
Kenneth menunduk sebentar, lalu berkata pelan, “Aku nggak marah.”
“Tapi aku keterlaluan.”
“Kamu lagi emosi.”
“Tetep aja.”
Ia akhirnya menatapku.
Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihat wajahnya dari dekat.
Wajah yang selama ini kuanggap biasa saja.
Wajah yang kuanggap tidak punya sesuatu yang spesial.
Aneh sekali bagaimana satu momen bisa mengubah cara seseorang terlihat di matamu.
Karena tiba-tiba, Kenneth tidak lagi tampak seperti anak laki-laki cupu pendiam yang membosankan.
Ia tampak…baik.
Terlalu baik.
“Aku cuma nggak enak kalau kamu pulang sendiri,” katanya pelan. “Rumahmu jauh.”
Aku menelan ludah.
“Kenapa kamu masih ngikutin aku? Padahal tadi kamu udah pergi.”
Ia mengangkat bahu kecil.
“Karena takut kamu di kejar anjing”
Aku tertawa kecil di sela tangis.
Lalu ia menambahkan, nyaris seperti gumaman,
“Dan aku nggak tega lihat kamu kenapa-kenapa.”
Entah mengapa, kalimat sederhana itu menetap lama di kepalaku.
Karena di tengah hari paling sialku saat itu, orang pertama yang benar-benar datang untukku bukan orang yang sedang mendekatiku.
Melainkan lelaki pendiam yang selama ini nyaris tak pernah benar-benar kulihat.
Komentar
Posting Komentar