Prolog

Ia datang ke pernikahanku dengan memakai pakaian yang dulu hanya berani ia impikan.

Pakaian itu melekat sempurna di tubuhnya rapi, tegak, penuh wibawa. Membuatnya tampak sangat berbeda dari laki-laki pemalu yang pertama kali kukenal bertahun-tahun lalu. Namun matanya masih sama. Mata yang pernah menatapku begitu lama hingga aku percaya ada perasaan yang tidak pernah mampu ia ucapkan.

Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, setelah segala cara kulakukan untuk melupakannya, semesta justru mempertemukan kami kembali di hari aku menjadi milik orang lain.

Lucu sekali cara hidup bekerja. Dari semua hari yang mungkin dipilih semesta untuk mempertemukan kami kembali, ia memilih hari ketika aku berdiri sebagai pengantin. dengan tangan yang sebentar lagi akan digenggam orang lain untuk seumur hidup.

Ia berdiri beberapa langkah di hadapanku, diam, seolah waktu memaksanya kembali menjadi laki-laki yang dulu: penuh kata-kata yang tertahan di tenggorokan.

Matanya berkaca.

Lalu ia tersenyum, senyum paling rapuh yang pernah kulihat darinya.

“Selamat.”

Suaranya pelan. Hampir seperti bisikan.

Aku mengangguk, tidak mampu berkata apa-apa.

Ia menatapku lebih lama dari yang seharusnya, lalu mengulanginya.

“Selamat.”

Dan untuk terakhir kalinya, dengan suara yang nyaris patah, seperti setiap hurufnya harus dipaksa keluar dari dadanya—

“Selamat.”

Di tengah riuh tamu undangan, suara musik, dan ucapan bahagia dari banyak orang, tiga kata sederhana itu justru menjadi kalimat paling menyakitkan yang pernah kudengar sepanjang hidupku.

Karena di saat itulah aku tahu, barangkali kami memang saling mencintai.

Barangkali selama ini aku tidak pernah salah membaca tatapannya.
Barangkali selama ini diamnya bukan karena ia tak punya rasa, melainkan karena ada hal-hal yang lebih besar daripada keberanian dan cinta.

Dan mungkin, sejak awal, kami memang bukan dua orang yang ditakdirkan untuk bersama.

Kami hanyalah dua manusia yang dipertemukan untuk saling mencintai pada waktu yang salah, dalam keadaan yang salah, dengan dunia yang terlalu rumit untuk berpihak.

Sebab sejak awal, cinta kami berdiri di dua sisi tembok yang tak pernah cukup runtuh untuk kami seberangi.

Dan hari itu, di hadapan pelaminanku sendiri, aku akhirnya mengerti—

bahwa tidak semua cinta gagal karena hilang rasa.

Sebagian gagal
karena dunia tidak pernah benar-benar memberi mereka kesempatan.

Komentar